Cara Mengatasi Investasi Reksa Dana dalam Keadaan Kritis

Cara Mengatasi Investasi Reksa Dana dalam Keadaan Kritis

Setiap orang tentunya ingin investasinya aman, akan tetapi jika keadaan kurang stabil membuat setiap orang sangat perlu berhati-hati dalam mengelola investasi. Diketahui bahwa perekonomian Indonesia yang sedang bergejolak saat ini membuat investor lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Mulai dari saham, emas, sampai reksa dana pun akan dicoba bagi para pemula investasi.

Lalu, bagaimana jika Anda ingin berinvestasi di reksa dana tetapi takut untuk memulainya karena kondisi perekonomian yang terguncang? Mudah saja, ada tiga langkah yang bisa menjadi kuncian investor pemula untuk terjun di reksa dana.

Anggota kompartemen sosialisasi dan edukasi Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Rudiyanto membeberkan tiga langkah tersebut, yakni terdiri dari fit, focus, dan finish.

Langkah pertama yakni fit. Dalam artian, Anda harus memiliki kondisi keuangan yang prima. Setidaknya, dana cadangan yang dimiliki cukup aman untuk Anda berinvestasi.

“Dalam menjalankan investasi, kita harus punya dana cadangan yang kuat. Kalau nanti masuk rumah sakit, apalagi saat ini ekonomi sulit, kita tidak panik menjalankan investasi reksa dana," ungkap dia di Jakarta, Kamis (2/7/2015).

Langkah kedua, investor harus focus memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasi. Sebab, setiap reksa dana memiliki banyak pilihan, mulai dari reksa dana saham, proteksi, campuran, pendapatan tetap, pasar uang dan indeks.

Instrumen setiap investasi reksa dana pun berbeda-beda, ada yang memiliki waktu pendek maupun panjang. Tergantung kebutuhan dan keinginan yang diinginkan.

"Bisa pilih yang jangka pendek dan panjang, sesuai kebutuhanlah, ada yang mau untuk menikah, beli rumah, sekolah dan lain-lain," urainya.

Langkah ketiga, adalah finish. Maksudnya, pemain investasi di reksa dana harus pandai mengevaluasi setiap kejadian, apakah sudah sesuai yang diinginkan atau belum. Jikalau tidak sesuai yang diinginkan, berarti fokus investasi yang dijalankan sudah tidak sesuai apa yang diharapkan dari awal.

Dia menjelaskan pendorong kinerja reksa dana tidak lain dari laporan keuangan emiten. Kinerja emiten yang jeblok di semester pertama memberikan sentimen negatif bagi reksa dana. Untuk itu, kinerja emiten di semester kedua diharapkan bisa lebih baik, agar bisa menjadi stimulus yang baik bagi kinerja reksa dana.

"Tapi saya yakin kinerja reksa dana bisa lebih baik hingga akhir tahun ini, terbantu dari kinerja dan realisasi infrastruktur nanti," ujarnya.
SAW

Sumber : Metrotvnews.com