Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

PELAJARAN BERHARGA TENTANG PERFILMAN INDONESIA DARI DEWA EKA PRAYOGA


Saya sedang mempersiapkan film perdana di bioskop. Hanya saja, Saya

bukan tipe orang yang koar-koar di publik soal film. Santai saja. Tahu-tahu jadi. Hehe ^_^ Doakan ya...
Karena lagi persiapan, sejak lama Saya mulai mengamati dunia perfilman di Indonesia. Faktanya, industri film penuh dengan misteri yang tak terpecahkan, saking banyak faktor "uncontrolnya".
Misalnya...
Saya tidak begitu kaget ketika melihat pencapaian penonton film The Guys dan film Kartini yang cuma mencatatkan angka sangat kecil, tapi Saya cukup terkaget saat melihat angka penonton film Danur sangat besar. (Cek gambar)
Sekadar informasi, film The Guys diperankan oleh aktor Raditya Dika, sementara film Kartini diperankan oleh aktris Dian Sastrowardoyo.
Yuk kita bedah secara iseng.
Coba perhatikan baik-baik...
Jika melihat pada data penonton, film Raditya Dika sebelumnya -Hangout- mampu mencatatkan penonton sebanyak 2.620.644, sedangkan film Dian Sastro lainnya, -Ada Apa dengan Cinta 2- menorehkan rekor penonton sebanyak 3.665.5089.
Pertanyaannya, kenapa film TERBARU mereka saat ini angka penontonnya malah anjlok???
Data per pagi ini, perolehan penonton 2 film tersebut adalah:
- The Guys: 387.523 penonton
- Kartini: 90.385 penonton
(Keduanya gak nyampe 1 juta)
Untungnya, kedua film tersebut saat ini masih tayang di XXI seluruh Indonesia.
Herannya...
Di satu sisi, ada film Indonesia lainnya bergenre Horror, yaitu Danur, mencatatkan jumlah penonton sebanyak 2.610.915. Wow!
Dan setahu Saya, ini adalah film horror perdana di Indonesia yang mencatatkan perolehan penonton di atas 1 juta. (cmiiw).
***
Apa pelajaran berharga yang bisa kita ambil sebagai seorang pengusaha?
Pertama, KELARISAN DIPENGARUHI PERSAINGAN.
Apa yang membuat film Danur laris?
Dan apa yang membuat film The Guys dan Kartini anjlok?
Salah satunya adalah faktor PESAINGAN.
Ya, Danur tayang di XXI disaat tidak ada film box office internasional muncul. Karenanya, film Danur beberapa hari sejak penayangannya, sempat merajai layar-layar XXI di Indonesia, walaupun per hari ini beberapa layar mulai turun, karena adanya persaingan film lain yang lebih baru dan menjual.
Sementara The Guys dan Kartini, rilis di XXI bertepatan dengan tayangnya film box office internasional, yaitu The Fate to Furious, atau orang lebih mengenalnya Fast & Furious 8.
Bayangkan, saat film Fast & Furious 8 muncul, layar XXI seakan dimonopoli oleh mereka. Dalam 1 bioskop, bisa nyampe 3-4 layar. GENDENG!
Hikmahnya: PERSAINGAN.
Jelas, XXI gak mau ambil risiko nayangin film yang belum tentu laku. Dan melihat track record Fast & Furious, jelas XXI berani ambil keputusan memberikan layar yang banyak ke film tersebut, toh terbukti laris dil film-film sebelumnya. Buktinya, per bari ini saja, total gross revenue film Fast & Furious sebesar $124.896.220, jika dirupiahkan sebanyak Rp 1.748.547.080.000 (1,74 Triliyun). UEDYAN!!
Sialnya, persaingan ini tidak bisa kita kontrol... Maksudnya?
Kita tidak pernah tahu kapan tepatnya film luar akan tayang. Kita pun tak pernah bisa menyetir XXI untuk memberikan pesan, "wan, filmku tayang bulan sekian tanggal sekian ya...".
Gak bisa kaya gitu, karena hal itu dilakukan jauh-jauh hari, dimana keputusannya ada di tangan XXI.
Begitu juga dalam bisnis...
Misal bulan depan mau launching produk, katakanlah tanggal 1-7 Mei. Persiapan udah matang. Semuanya udah selesai. Dan Anda siap menyukseskan launch produk tersebut.
Assemnya, tiba-tiba ada produk dengan brand lebih besar launch barengan tanggal 1-7 Mei. Genre produknya sama. Marketnya serupa. Dan harganya mirip-mirip. Hasilnya? Tidak begitu baik...
Contoh, di dunia produk digital, katakanlah si A mau launch tgl. 1-7 Mei. Produknya udah disiapkan sejak 6 bulan sebelumnya. Eh pas seminggu sebelum launch, ada seorang mastah dengan massa yang massive, tiba-tiba memutuskan launch tgl. 1-7 Mei. Otomatis market akan pecah... apalagi marketnya cuma itu-itu aja. Kebayang?
Karenanya, pesan untuk Anda, bersiap-siaplah dengan segala macam kemungkinan. Kenapa? Karena persaingan tidak bisa dihindarkan. Itulah pasar.
Misalkan Anda buat film X. Udah disiapkan setahun sebelumnya. Lalu direncanakan launching bulan Januari 2018. Eh sialnya, di bulan tersebut tepat pekan itu, ada film garapan Marvel rilis di Indonesia, katakanlah film Avengers terbaru. DHUARR!!! Habislah film kita... Impian yang diharapkan dapat 2-3 layar di XXI, eh malah dapat cuma 1 layar, itu pun studio paling kecil dengan jumlah penonton paling sedikit.
Bersiaplah untuk kalah. Bersiaplah untuk kecewa. Bersiaplah kehilangan impian. Hanya karena disebabkan oleh faktor uncontrol, yakni Persaingan, yang penuh dengan ketidakpastian.
---
Kedua, FOLLOWER BUKANLAH BUYER.
Bayangkan, followersnya Raditya Dika dan Dian Sastro itu jutaan lho. Apalagi kalau followers Instagram dan Subscriber Youtubenya disatukan, beeuuh... BUANYAK!
Tapi kenapa followers mereka gak semuanya ikut nonton film tebarunya?
Alasannya, karena follower bukanlah buyer. Followers bukanlah orang-orang yang siap bayar. Mental mereka berbeda. Ada yang cuma penyuka, ada yang siap keluar uang.
Belum lagi film The Guys, salah satu aktrisnya adalah Pevita Pearce, dimana dia punya followers IG sebanyak 8.369.000+ orang. Logikanya, kalau 10% nya aja loyal, minimal 830.000+ orang nonton. Lha faktanya? Enggak.
Termasuk kalau kita punya followers di Facebook atau list Email katakanlah 100.000. Bukan berarti data tersebut bisa dijadikan acuan bahwa mereka siap membeli produk kita, kecuali mereka sebelumnya emang bermental "bayar" yang pernah beli produk. Bisa jadi, walaupun belum pasti.
Sekadar share....
Saya pribadi punya data bahwa konversi Saya ada di kisaran 3-5% dari jumlah list email dan followers Facebook.
Jadi kalau Saya ingin launch produk dengan 100.000 sales, maka Saya harus punya minimal 3.300.000 list / followers. WOW!
Karenanya, untuk memperbesar potensi buyer, kita harus memperbanyak list dan followers. Walaupun memang angka mereka bukan berarti jumlah buyer, karena kita lagi bicara potensial buyer. Gak percaya?
Coba tengok film Danur..
Danur diperankan oleh Prilly Laticonsina, yang memiliki followers Instagram sebanyak 16.308.000+ (2x lipat followersnya Pevita). Hasilnya?
Film Danur bisa menorehkan angka penonton sebanyak 2,6 juta orang.
(Tentu ini terlepas dari faktor pertama, yakni persaingan)
Bukti lainnya adalah...
Film Hangout yang juga diperankan oleh Prilly, mencatatkan angka penonton sebanyak 2.620.644 orang. Film ini menjadi film Raditya Dika dengan jumlah penonton terbanyak dan menjadi film 10 besar dengan perolehan pentonton terbanyak di tahun 2007-2017 (sebentar lagi bakal kegeser sama film Danur. Hehe)
So, jangan pernah mengasumsikan bahwa followers/list Anda adalah buyer. Mereka bukan buyer. Mereka hanya potensial buyer, dimana angka potensialnya harus terus Anda ukur setiap bulannya.
---
Ketiga, LARIS TIDAK BERARTI BAGUS.
Film Surga Yang Tak Dirindukan 2 (SYDT2) bagi Saya sangatlah bagus. Tapi film Danur angka penontonnya malah lebih banyak (lebih laris) daripada film SYDT2. Bahkan, selisihnya hampir 2x lipat, sekitar 1 juta-an.
Ini mirip dengan kasus film Warkop DKI Reborn yang mengalahkan film Laskar Pelangi. Bagi Saya, film Warkop gak bagus-bagus amat, malahan bisa dibilang gak bagus. Tapi perolehan penonton Warkop Reborn selisih 2,1 juta dibandingkan film Laskar Pelangi.
Dan angka penonton tersebut mencatatkan film Warkop DKI Reborn menjadi film TERLARIS sepanjang massa di Indonesia dengan angka penonton 6.858.616 orang (beberapa sumber mengatakan 8 juta penonton). Konon, revenuenya lebih dari 200 Miliar. GENDENG!
Apa pelajarannya?
Buatlah film yang disukai market, bukan hanya penyaluran ego produser. Bicaralah bahasa market, bukan ego pemilik produk.
Tentu, value positifnya harus terus Anda junjung tinggi, jangan cuma asal buat dan isinya gak jelas. Buat film yang bagus DAN laris!
Makanya, kalau Anda punya bisnis, jangan cuma buat produk yang menurut Anda bagus, tapi buatlah produk yang memang dibutuhkan atau disukai market. Riset.
***
Demikian hasil analisa Saya dari perfilman Indonesia, semoga bisa diambil pelajarannya dalam bisnis kawan-kawan semua. Aamiin..
Kita doakan semoga dunia perfilman Indonesia makin membaik dan berkembang. Kualitas filmnya makin bagus, penontonnya makin ngelirik. Aamiin..
Semoga bermanfaat.
Sampai ketemu di Mesjid Istiqlal hari ini...
NB:
Sekali lagi, ini hanya analisa "ngawur" Saya saja, Anda gak usah terlalu serius dan percaya. Jadi kalau mau share, silakan. Nggak juga gak apa-apa. Namanya juga iseng.. 😅😂
 
Top