Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

8 Indikator untuk Melihat Negara Indonesia supaya menjadi lebih baik dan Menjadi Negara Maju berdasarkan Legatum Prosperity Index (LPI)

Saat memperoleh informasi ini, memang belum begitu jelas, namun setelah ditinjau lebih dalam dan ditelaah lebih dalam, maka ada beberapa sektor atau beberapa bidang yang harus diperbaiki supaya Indonesia menjadi lebih baik.

Bagi yang tidak puas dengan indikator-indikator ekonomi untuk mengukur kemajuan Indonesia, kita bisa menilik posisi Indonesia berdasarkan Legatum Prosperity Index (LPI). LPI mengukur kesejahteraan negara melalui delapan indikator: pendidikan, kesehatan, perekonomian, keamanan, kebebasan, modal sosial, kewirausahaan dan kesempatan, dan pemerintahan. Berdasarkan LPI ternyata prestasi Indonesia sangat mengagumkan—tingkat kenaikkan kesejahteraan Indonesia adalah yang terbaik di dunia sejak tahun 2009. Sedangkan apabila diukur melalui indikator-indilator Millennium Development Goals (MDGs), Indonesia merupakan Top Five Performer.



Indonesia memiliki perekonomian terbesar di Asia Tenggara dengan PDB mendekati US$ 1 trilyun. Petumbuhan ekonomi Indonesia dengan tingkat pertumbuhan rata-rata lebih dari 6% setiap tahunnya dalam beberapa tahun terakhir, menjadikan Indonesia sebagai sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan tercepat setelah China di G-20—kelompok elit 20 negara terkaya di dunia. Berdasarkan riset dari McKinsey & Company, Indonesia akan menduduki peringkat ketujuh secara ekonomi di dunia pada 2030, lebih kaya dari Jerman dan Inggris. Sedangkan riset Standard Chartered memprediksikan Indonesia akan menduduki peringkat ke-10 negara terkaya di dunia pada 2020, dan peringkat ke-6 pada 2030.

Pengaruh Indonesia di level globalpun semakin tinggi. Indonesia, sebagai pemimpin de facto ASEAN, dinilai berhasil menciptakan ASEAN yang damai, stabil, dan sejahtera. Sebagai anggota G20, aspirasi-aspirasi Indonesia pun sangat diperhitungkan untuk menyusun tata kelola perekonomian global. Dan sebagai negara dengan jumlah muslim moderat terbesar di dunia, kepemimpinan Indonesia dalam dunia Islam begitu vital. Figur-figur dari Indonesiapun sekarang menduduki posisi-posisi penting dunia. Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan RI, sekarang menjabat sebagai Managing Director World Bank. Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perdagangan RI, digadang-gadang dan menjadi kandidat kuat untuk posisi Direktur World Trade Organization (WTO).

Fakta-fakta di atas kembali membangkitkan kepercayaan diri kita sebagai warga Indonesia tentang masa depan bangsa ini. Ketika saya mengutarakan fakta-fakta di atas pada saat mengisi talk show, seminar atau forum, banyak dari kita yang tidak tahu tentang hal ini. Saya berpikir, bagaimana kita bisa bangga dan maju apabila kita tidak mengerti tentang potensi diri kita sendiri. Oleh karena itu di berbagai kesempatan, saya berusaha untuk menceritakan kabar-kabar positif ini agar semakin banyak dari kita yang mengerti potensi kehebatan Indonesia, sehingga kita bisa lebih percaya diri dan memiliki harapan lebih besar bagi masa depan Indonesia.

Lalu apakah sebenarnya syarat terpenting bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara maju? Apakah dengan melihat fakta-fakta dan tren positif seperti pemaparan di atas kita cukup percaya diri bahwa Indonesia bisa menjadi negara maju? Apa yang bisa kita pelajari dari Amerika Serikat sebagai negara termaju, terkaya dan menjadi hegemon global, mengapa bisa demikian hebat? Dan apa yang bisa kita pelajari dari kehebatan China sekarang?

Bulan Februari 2012 lalu di Bandung saya mengikuti sebuah event yang salah satu acaranya adalah FGD. Saya berada di kelompok yang membahas tentang bagaimana menyiapkan Indonesia sebagai negara maju. Ada sekitar 10-15 orang yang berada dalam kelompok FGD itu. Saya memulai diskusi dengan mengatakan bahwa Indonesia punya potensi untuk menjadi pemimpin dunia, tidak hanya sekedar menjadi negara maju—dengan memperhitungkan faktor budaya, sejarah, potensi SDM & SDA dsb. Menurut saya, Indonesia berhak dan pantas memiliki cita-cita demikian.

Tetapi ada seorang teman saya tiba-tiba angkat tangan kemudian membantah dan mengajukan perspektif lain terhadap isyu ini. Menurutnya, tak usahlah kita memiliki ambisi untuk menjadi negara maju, apalagi menjadi pemimpin dunia, memiliki pengaruh global yang besar. Indonesia tidak akan mampu mencapai ambisi tersebut dan hanya akan melelahkan pikiran dan menguras energy untuk mengusahakan sesuatu yang kita tidak berhak. Teman saya ini bukan sembarang anak muda; ia lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia dan bisa digolongkan sebagai aktivis.

Saya tidak menjawab atau menyanggah perspektif teman saya tersebut karena perspektif itu datang dari seorang yang cukup saya hormati. Sepanjang acara itu, bahkan hingga dalam perjalanan pulang, saya tetap memikirkan apakah memang sebaiknya kita tidak perlu memiliki ambisi sebagai negara maju, menjadi pemimpin dunia. Apakah pandangan saya selama ini salah, terlalu optimis dan ambisius tentang masa depan Indonesia. Sampai akhir-akhir ini pun, satu tahun setelah acara, saya masih merefleksikan pertanyaan-pertanyaan ini. Hingga akhirnya saya memiliki sebuah kesimpulan, sebagai berikut:

Kita tidak bisa mencapai prestasi sebagai negara maju dan menjadi pemimpin dunia apabila kita memiliki cukup ambisi untuk meraih prestasi itu. Dan kita berhak dan pantas memiliki ambisi itu.

Ya, yang saya tekankan disini adalah pentingnya ambisi besar untuk memajukan Indonesia apabila kita ingin menjadi negara maju. Permasalahan kenapa Indonesia masih mediocre, menjadi bangsa tanggung, bukan karena kita tidak punya potensi untuk maju bukan juga karena kita tidak pantas menjadi negara maju. Kita punya potensi dan kita pantas! Permasalahan utamanya adalah karena ambisi kita tentang masa depan Indonesia tanggung. Oleh karena itu apabila kita ingin maju, kita sebagai masyarakat Indonesia terutama generasi muda, harus membesarkan ambisi tentang apa yang pantas dan bisa diraih oleh Indonesia. Karena pilihan terbaik bagi setiap bangsa adalah mencapai hal tertinggi yang mungkin dicapainya.

Saya yakin Indonesia punya hak, kesempatan, dan potensi untuk meraih kemungkinan-kemungkinan terbaik yang bisa diraih oleh sebuah bangsa: masyarakat adil, makmur dan sentosa; menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; memiliki budaya dan peradaban tinggi; menjadi bangsa yang berpengaruh dan terhormat di dunia; menjadi pemangku dan sumber inspirasi bagi dunia yang damai dan sejahtera. Cita-cita itu bisa kita capai apabila secara kolektif sebagai generasi muda kita memiliki ambisi yang besar untuk bersama-sama memperjuangkan dan merealisasikan cita-cita mulia tersebut.

AS bisa sehebat dan semaju sekarang tidak bisa lepas dari ide American exceptionalism yang menjadi kepercayaan bawah sadar banyak dari masyarakat AS—baik mengakui secara terang-terangan maupun secara tersembunyi. American exceptionalism adalah sebuah ide yang mengatakan bahwa AS berbeda dari negara-negara manapun di dunia ini dan AS memiliki peran unik di dunia untuk menyebarkan pengaruh dan ideologinya sehingga dunia bisa menjadi lebih beradab berkatnya.  American exceptionalism Ini lahir pada 1831 dan, sebagai ideologi, telah masuk kedalam alam pikiran-keyakinan masyarakat AS.

Ide American exceptionalism ini sangat powerful. Pemimpin-pemimpin AS, terutama dari kalangan republikan, mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dipengaruhi oleh ide ini. Itulah mengapa AS sangat bangga dengan demokrasi yang dikembangkannya dan mengkampanyekan bahwa apabila suatu negara ingin beradab, maka harus mengadopsi demokrasi. Itulah mengapa ia mendirikan institusi Bretton Woods seperti World Bank dan International Monetary Fund (IMF) untuk memastikan tata ekonomi global di bawah pengaruhnya. Dan itulah juga mengapa AS gemar memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan kepada negara-negara miskin di dunia karena ia merasa memiliki tanggung jawab sentral untuk membuat dunia yang lebih baik. Dengan kata lain, prestasi-prestasi kehebatan AS saat ini sangat erat kaitannya dengan kepemilikan ambisi yang sangat besar AS untuk tidak hanya sekedar menjadi negara maju, tetapi juga menjadi pemimpin dunia.

Padahal AS bukanlah siapa-siapa pada awalanya. Negara ini baru ada sejak abad ke-18 dan memulai dari nol, dibangun oleh para imigran dari berbagai benua terutara dari Eropa. Ketika American exceptionalism diperkenalkan oleh Alexis de Tocqueville pada permulaan abad ke-19, sesungguhnya AS masih sangat miskin, negaranya kacau balau karena perpecahan, dan jauh dari memiliki pengaruh global. Tetapi disamping berbagai kelemahan dan permasalahan tersebut, masyarakat AS percaya akan keistimewaan mereka dan kemudian ide tersebut menjadi bahan bakar untuk menggapai ambisi besar AS sebagai pemimpin dunia.

Saat ini China, berkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan, diprediksi akan menjadi pemimpin alternatif dunia pada Abad-21. Kekuatan ekonomi China saat ini hanya tertinggal dari AS dan pada pertengahan Adab-21, China akan menggantikan posisi AS sebagai negara terkaya di dunia. Ketika krisis menghantam perekonomian Barat beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi China tetap pesat. China sangat berpengaruh di dalam badan atau organisasi regional-global seperti Dewan Keamanan PBB, G20, BRICS, AFTA, ASEAN+3 dsb. Dan China pun saat ini mulai melebarkan pengaruh di Afrika dan Amerika Selatan melalui investasi dan bantuan-bantuan finansial.

Mengapa China bisa demikian, tumbuh sebagai kekuatan dunia masa mendatang? Faktor terpenting China bisa demikian adalah karena kepercayaan masyarakat China bahwa China adalah middle kingdom. China, yang juga disebut Zhongguo dan Zhongua, secara literal berarti middle kingdom. Di dalam kata ini terdapat sebuah konsep yang mengatakan bahwa China adalah pusat dunia, pusat peradaban, bahwa bangsa-bangsa lain di dunia sifatnya adalah periphery (pinggiran). Dan inilah ide yang membakar masyarakat China untuk memperjuangkan ambisi mereka memajukan China dan menjadikan China kembali memimpin dunia. Ambisi ini bisa menjelaskan berbagai prestasi luar biasa China saat ini.

Hikmah apa yang bisa kita petik dari pengalaman Amerika dan China?

Masyarakat Indonesia harus membesarkan ambisi apabila ingin menjadikan bangsa ini maju. Dan inilah masalah kita saat ini, kita belum memiliki ambisi yang cukup besar dan kuat untuk membakar semangat, mendorong kreatifitas, dan melalukan pengorbanan untuk mencapai hal tertinggi yang Indonesia mampu. Tidak cukup berpuas diri hanya sebagai anggota pemimpin de-facto ASEAN, anggota G-20, middle-income country dan hal-hal yang telah kita raih. Kita harus membesarkan cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia, layaknya AS percaya tentang American exceptionalism dan China percaya pada konsep Middle Kingdom. Ambisi ini adalah ambisi yang baik, kita pantas memilikinya, dan yakinlah bahwa kita bisa memenuhinya.

Pada Abad ke-7, nenek moyang kita berhasil menunjukkan kehebatan Nusantara kepada dunia dengan dibangunnya  Candi Borobudur oleh Dinasti Syailendra—candi terbesar di dunia yang mustahil dapat dibangun apabila kita tidak memiliki teknologi maju, kekuatan ekonomi besar, budaya unggul, dan strategi diplomasi yang berpengaruh. Tujuh abad kemudian, pada abad ke-14, nenek moyang kita menunjukkan kehebatannya lagi kepada dunia ketika Gadjah Mada dan Hayam Wuruk memimpin Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tenggara dan masyarakatnya makmur sejahtera. Ini adalah modal sejarah penting untuk memupuk kepercayaan diri. Di Abad-21 ini, seperti pemaparan paragraf-paragraf di awal, Indonesia punya potensi besar untuk kembali menjadi gemilang.

Pada akhirnya nasib masa depan sebuah bangsa tergantung kepada jiwa-jiwa manusia yang ada di dalamnya. Nasib masa depan Indonesia di Abad-21 tergantung kita semua, masyarakat Indonesia. Apakah kita ingin membuat Indonesia seperti ini saja dan tidak berkembang, itu tergantung dan terserah kita. Tetapi saya yakin setiap warga yang baik akan mencita-citakan Indonesia yang lebih baik masa mendatang. Dan menurut saya tidak ada cita-cita yang lebih baik dari pada bercita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa maju, sebagai pemimpin dan pemangku dunia. Agenda mendesak kolektif kita saat ini adalah  menutup gap ambisi, memperbesar cita-cita, dan mengusahakan yang terbaik bagi Indonesia. Apabila Amerika dan China telah membuktikan, mengapa kita tidak?

Sumber : http://ghufronmustaqim.com
 
Top