Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Alasan Mengapa Satu persatu kami ludeskan aset aset kami dari Mbak Tiwi Tri Widayanti



Kalau dibilang sedih pastilah sangat. Tapi berani menerima, harus berani melepaskan. Kembali ke titik terendah dalam hidup.

KARENA SURGA BUKAN DI DUNIA...

Suamiku...

Masih ingatkah engkau pada nubuat Rasulullah, jika di akhir zaman, hidup kita kaum muslimin harus melawan arus yang sangat besar. Semua aturan Allah seperti melawan semua kewajaran dunia saat ini.

Tapi janganlah sampai engkau ikut berfikir:

"Mencari yang haram pun susah, apalagi yang halal???"

"Hidup tanpa RIBA - tanpa KPR, tinggal dimana kita? Tanpa leasing, sulitlah gerak kita,  tanpa pinjaman usaha dari bank mana bisa usaha kita jalan?"

"Sulit bekerja tanpa risywah, karena suap menyuap itu sudah lazim,  seperti itulah sistem sekarang, mana bisa dapat pekerjaan kalo tanpa suap yang berwenang?"

"Mau tutup asuransi??? Ga pake asuransi? Nanti kalo sakit bayar pake apa? Sakit sekarang mahal!"

............

Benar suamiku...

Ikut aturan  Allah itu, laksana menggenggam bara api, tapi entah mengapa... Semakin Allah menguji kita,  hati ini makin lembut dan terasa lebih dekat dengan-Nya.

Hingga sakit dan tekanan ini memberi harapan, Bahwa nanti sampai ke titik paling rendah hidup kita, Allah akan memberikan kita keberkahan seperti yang didapat Nabi Ibrahim dan bunda Siti Hajar.

Setelah turun perintah Allah pada sang suami untuk meninggalkan istri tercinta di padang pasir tak berpenghuni dengan bayi kecil yang telah lama mereka nantikan kedatangannya, tanpa makanan dan minuman,  rasanya memang tidak mungkin bisa hidup.

Namun karena menggenggam kuat keyakinan,  tak berat sang suami mengikuti perintah Rabb nya.  Tak berputus asa sang istri dengan  perjuangan berat antara shafa dan marwahnya...

Di titik nadirnya... Allah tumbuhkan kembali keberkahan hidup, yang dimulai dari percikan air zamzam yang keluar dari hentakan kaki Ismail kecil.

Air itu... Menjadi berkah tak hanya untuk dirinya, bayi kecilnya, keluarganya...  Tapi seluruh ummat hingga hari ini...

Suamiku...  Percayalah...  Kondisi kami anak istrimu ini,  tidak akan lebih sulit dari apa yang telah beliau lalui dengan bayi yang sekarang kita tau telah menjadi salah satu nabi Allah itu.

Kami akan mampu menahan perihnya hidup berbalik arus dengan dunia. Kami akan mampu merasakan sakitnya,  perihnya,  panasnya menggenggam bara api ini, demi satu harapan:

Melahirkan generasi terbaik umat seperti Ismail, yang setiap ujian makin memantapkan hatinya untuk takut hanya kepada Allah. Generasi yang gerak dan nafasnya hanya untuk ridho dan kemenangan dari Allah.

Menjadi anshorullah,  penolong agama Allah. Maka masa ke emasan Islam akan kembali bangkit dalam genggaman mereka!  Menjadi bagian dari Rahmatan Lil 'alamin...

Mereka...

Generasi terbaik yang lahir dari kita, sulbi-sulbi para penggenggam bara api.

Suamiku... Tidak mudah menjadi kita, Beramal di akhir zaman ini berat, maka genggam tanganku,  peluk erat anak-anak kita, tuntunlah kami untuk  berjalan diatas bara api ini bersamamu.

Kami siap... Kami ikhlas...  Karena surga, bukan di dunia...

............

Bismillah....

Keep istiqomah abi Setiyono Tiyo, fillah, billah, lillah.

- Tri Widayanti -


 
Top