Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

BI menyatakan Investasi Masuk Sebesar Rp177,75 Triliun akan menjaga gairah investasi di pasar saham

Bank Indonesia memberika laporan yang sangat bagus terkait dengan adanya dana investasi yang masuk mencapai Rp 177,75 triliun. Hal ini suatu prestasi awal yang bagus untuk menjaga gairah pada pasar saham di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Kamis 20 November 2014, menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan terjaga, di tengah ketatnya situasi moneter tahun ini.

Ia menjelaskan, angka kredit macet (non performing loan/NPL) berada di kisaran 2,8 persen dari total kredit per September 2014. Permodalan berada di posisi yang memadai, dengan rasio kecukupan modal, atau capital adequacy ratio (CAR) 19,4 persen dan pertumbuhan kredit mencapai 13,2 persen dalam perbandingan tahun ke tahun (year on year/YoY).

Kebijakan bank sentral, Agus melanjutkan, turut memperkuat kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Terlihat, dari peningkatan arus masuk investasi portofolio sebesar Rp177,75 triliun pada kurun Januari hingga pertengahan November 2014. Jumlah ini meningkat dari arus investasi 2013, pada periode yang sama sebesar Rp35,9 triliun.

"Aliran ini menjaga gairah investasi di pasar saham dan SBN (Surat Berharga Negara). Persepsi risiko terhadap Indonesia di pasar keuangan juga cukup membaik, seperti yang ditunjukkan oleh Credit Default Swap yang turun dari 303 bps (basis point) pada Agustus 2013 menjadi 142 bps pada November 2014," ujar Agus saat menyampaikan sambutan dalam acara "Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2014" di Jakarta.

Cadangan devisa, menurut Agus, tetap terjaga. Sampai Oktober 2014, cadangan devisa mencapai US$112 miliar, atau setara dengan 6,4 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Adapun defist neraca transaksi berjalan sampai kuartal III-2014, lebih rendah daripada periode yang sama tahun sebelumnya. Seperti diketahui, pada kuartal III-2014, defisit transaksi berjalan sebesar US$6,8 miliar dan angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2013 sebesar US$8,64 miliar.

"Perbaikan ini tampak pada nilai bersih ekspor nonmigas, ditopang perbaikan pada ekspor manufaktur dari sentra-sentra industri utama di Pulau Jawa. Sejalan dengan itu, perekonomian DKI Jakarta dan Jawa terlihat mulai stabil dan Kawasan Timur Indonesia mulai membaik walaupun perekonomian Sumatera masih melambat," kata Agus.

Sementara itu, tren inflasi dinilai mengalami penurunan. Pada kuartal III-2014, inflasi tercatat 4,53 persen dan lebih rendah daripada periode yang sama tahun sebelumnya pada level 8,4 persen. Begitu pula, dengan peningkatan volume transaksi valas di pasar spot antarbank dari US$500 juta per hari menjadi US$1,5 miliar.

"Sebab itu, tak berlebihan jika langkah-langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia telah berhasil mengembalikan kondisi ekonomi makro kembali pada jalan stabilitas. Capaian ini perlu kami jaga dan lindungi bersama dari kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek," kata Agus. (asp)

Sumber : viva.co.id

 
Top