KLIK DI SINI untuk mengetahui PANDUAN, BIMBINGAN GRATIS sehingga Anda bisa MENGHASILKAN MILIARAN RUPIAH melalui BISNIS ONLINE cukup dengan menggunakan fasilitas GRATIS di internet KLIK DI SINI

Indonesia memiliki daya tarik yang besar untuk melakukan Investasi bagi Para Investor

Banyak cara yang digunakan untuk mempersiapkan masa depan keluarga. Jika setiap keluarga sadar pentingnya investasi tentu saja kesejahteraan di Indonesia bisa semakin meningkat. Berinvestasi adalah salah satu yang sangat bisa diandalkan untuk bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat untuk masa yang akan datang. Namun tentu saja, investasi pun juga beragam. Selain itu, dengan investasi bisa membuat Indonesia menjadi semakin kaya dan bisa mendapatkan banyak keuntungan dari investasi tersebut.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengatakan Indonesia memiliki daya tarik yang besar untuk investor. "Dengan ekonomi sekarang Indonesia sangat atraktif untuk investor, investor hanya tinggal menunggu sebentar bagaimana kebijakan dan implementasi dari pemerintah," ujar Senior Resident Representative IMF, Benedict Bingham, dalam Indonesia Economic Outlook 2015 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Pernyataan Presiden Joko Widodo pada salah satu pertemuan internasional beberapa waktu lalu yang menyebutkan Indonesia akan menggunakan investasi langsung luar negeri (Foreign Direct Investment/FDI) untuk merealisasikan persaingan ekonomi global dikemukakan Bingham sudah benar. Dengan FDI menurutnya kontribusi tingkat persaingan Indonesia pada ekonomi global dapat meningkat.

"Saya rasa juga benar dengan strategi itu ekonomi Indonesia bisa lebih menarik untuk investor langsung," ucapnya. Namun dua tantangan mendasar pemerintah Indonesia masih jadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

Ketidakpastian kondisi ekonomi global yang menimbulkan masalah makroekonomi seperti defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) harus diatur sejalan dengan kebijakan potensial dan dana yang bergulir masuk sampai 2030 mendatang. Persoalan sektor finansial terutama perbankan juga perlu dijaga kestabilannya.

"Big challenge pemerintah baru fokus pada pertumbuhan ekonomi dalam cara yang baru dari kinerja reformasi sisi suplai dari yang berbasis komoditi menjadi berbasis manufaktur dan pertanian," tukasnya. Haluan baru presiden tersebut menurutnya sudah menunjukkan arah positif dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menjadi pilar baru ketersediaan suplai.

Dalam pandangan Bingham Indonesia juga perlu kembali meningkatkan industri manufaktur lewat peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pilar pendidikan. Semakin tinggi jumlah sumber daya manusia yang berpendidikan maka semakin positif perubahan kedepannya.

"Saat ini jumlah penggangguran atau pekerja masih banyak dari kalangan tamatan sekolah dasar ke bawah atau tidak berpendidikan, saya harap 2019 persoalan tenaga kerja dan pertumbuhannya akan berbeda," tutur Bingham. Lebih jauh, pada 2025 dia mengatakan Indonesia bisa memiliki persaingan dengan pendidikan yang terjamin.

Dengan begitu tingkat kemiskinan akan berkurang dan kesejahteraan sosial sebagai pilar strategi pertumbuhan ekonomi dpaat terwujud. Bingham pun memberi prediksi hingga akhir tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berkisar pada 5 persen, akan sama sampai 2015 karena dampak dari global head wind, penyesuaian konsumsi minyak, dan ekspor perlu waktu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pun dikemukakannya baru dapat tercapai dua tahun dari sekarang. "Saya berharap di akhir 2017, jadi 6 persen, jadi realistislah," katanya.

Senada dengan Bingham, ekonom senior  Institute for Development Economy and Finance (Indef) Berly Martawardaya juga menyatakan Indonesia sangat menarik bagi investor apalagi dengan keterbukaan Presiden Joko Widodo mengenai masalah yang masih dihadapi. "Presiden Joko Widodo cukup fair untuk bilang ada masalah, seperti soal pembebasan lahan, jadi dia cukup terbuka soal tantangan," ujar Berly.

Baginya, investor memang membutuhkan keterbukaan tersebut karena investor pun tidak akan percaya kalau hanya hal baik yang disampaikan. Berly pun menyarankan pertemuan internasional seharusnya lebih sering dilakukan untuk menumbuhkan kredibilitas dan kepercayaan untuk pemerintah yang baru.
WID

Sumber : Metrotvnews.com, Jakarta
 
Top