Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Investasi di Indonesia semakin diminati oleh Asing karna Terbukti sudah antri 29 Perusahaan akan Berinvestasi di Indonesia

Indonesia kini semakin dikenal oleh asing dan juga peminat investasi di Indonesia juga cukup besar. Hal ini terbukti dari jumlah perusahaan-perusahaan yang akan menginvestasikan dananya di Indonesia. Sebanyak 29 perusahaan Jerman akan berinvestasi di Indonesia menyusul dibukanya pasar terbuka ASEAN yang menjadi gerbang bagi perusahaan asing untuk berpartisipasi di perekonomian Asia Tenggara.

"Saat ini kami memiliki 29 perusahaan tambahan yang akan berinvestasi di Indonesia karena negara Asia Tenggara, khususnya Indonesiam, memiliki ketertarikan yang besar bagi investor," kata Ketua Kamar Dagang Jerman Jan Roennfeld pada seminar bertema "ASEAN 2015 and beyond: Are German investors missing out?" di Jakarta, Kamis.

Roennfeld mengatakan investasi oleh 29 perusahaan ini merupakan upaya yang tidak ingin dilewatkan oleh investor Jerman dalam berpartisipasi di pasar terbuka ASEAN.

Menurutnya, wilayah ASEAN merupakan salah satu pasar di dunia yang sedang berkembang secara signifikan dan merepresentasikan sekitar tiga persen PDB bruto secara global.

Total keseluruhan investasi langsung Jerman yang diinvestasikan di perekonomian ASEAN saat ini hanya sekitar 1,9 persen.

Oleh karena itu, pasar terbuka ASEAN atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi momen yang tepat bagi Jerman untuk meningkatkan investasi perusahaan.

Sejumlah perusahaan yang akan berinvestasi tersebut, salah satunya dari sektor otomotif yang merupakan sektor investasi menjanjikan di Indonesia.

Saat ini, total investasi Jerman di Indonesia sekitar 500 juta Euro pada periode 2008-2012 dan menduduki peringkat tiga di ASEAN setelah Singapura dan Malaysia.

Roennfeld mengaku sedikitnya ketertarikan dari investor Jerman untuk berinvestasi dipengaruhi faktor regulasi pemerintah Indonesia.

"Indonesia memiliki banyak regulasi dari berbagai kementerian dan regulasi tersebut tidak berkesinambungan satu sama lain sehingga menimbulkan keraguan pada investor kami," kata Roennfeld.

Namun, Kepala Pusat Bisnis Jerman Ernst&Young di Indonesia, Thomas Wirtz, menilai kekhawatiran tersebut akan membuat investor Jerman kehilangan kesempatan.

Sebelumnya, beberapa investor sempat ragu untuk berinvestasi di Tiongkok, namun kenyataannya hanya Tiongkok yang berkembang lebih pesat dibandingkan ASEAN dalam 15 tahun terakhir.

"Perusahaan Jerman harus menyadari jika melewatkan kesempatan di pasar terbuka ASEAN, akan menjadi kesalahan yang sama seperti dengan Tiongkok sebelumnya," kata Thomas.

Editor: Tasrief Tarmizi

Sumber : antaranews.com

 
Top