KLIK DI SINI untuk mengetahui PANDUAN, BIMBINGAN GRATIS sehingga Anda bisa MENGHASILKAN MILIARAN RUPIAH melalui BISNIS ONLINE cukup dengan menggunakan fasilitas GRATIS di internet KLIK DI SINI

Kayu Bekas yang Tidak Terpakai bisa Menjadi Hasil Kayu Olahan yang Bernilai Ekonomis Tinggi dan Bermutu Tinggi

Sebagian banyak orang mungkin belum mengetahui tentang potensi bisnis kayu. Di sini akan dibahas tentang potensi bisnis kayu yang awalnya sudah tidak terpakai (limbah kayu/kayu bekas) yang mampu diolah sehingga memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Meskipun tahu tentang potensi bisnis kayu, namun tidak semua orang berani terjun dalam  bisnis kayu karena beberapa faktor misalnya belum tahu cara mengawalinya, belum tahu kayu digunakan untuk apa, siapa yang merawat ketika mulai dari bibit hingga panen, lalu yang juga penting adalah setelah besar kayu itu dipasarkan ke mana. Masalah-masalah itu yang mungkin menjadi sehingga hanya beberapa orang saja yang mau menggeluti secara mendalam tentang bisnis kayu.

Perlu diketahui, bahwa baterial kayu bekas tak hanya memiliki nilai ekonomis tinggi. Lebih dari itu, ketidaksempurnaan yang ada di material ini justru memiliki keunikan sendiri. Menurut Irianto, pemilik Cipta Graha Art, furnitur daur ulang diminati konsumen karena produknya unik dan tidak ada kembarannya.

Selain itu, kesan aus dan lusuh dari kayu-kayu bekas tersebut justru mencuatkan sisi historis yang tinggi. “Konsumen pun seakan memiliki benda seni, meski bentuknya hanyalah sebuah furnitur,” katanya.

Bahan baku potongan kayu pun tak sembarangan. Irianto memakai kayu yang bersifat keras dan telah berumur tua. Beberapa di antaranya adalah kayu bekas rumah, kayu bekas kapal, hingga kayu bekas bantalan rel kereta api. Rata-rata kayu bekas tersebut berjenis kayu jati tua. “Kayu-kayu ini tingkat kekeringannya tinggi sehingga tahan air, rayap, dan jamur.”

Menurut Irianto ada tantangan tersendiri kala mengolah kayu bekas. Karena bentuknya tak beraturan, dia harus menyesuaikan tiap palet kayu dengan desain furnitur yang akan dibuat. Tak jarang, dia harus mencopot paku-paku besar yang tertanam di kayu kapal dan bantalan kereta api.

Suwartini dari CV Nuansa Kayu Bekas, juga menyatakan hal serupa. Berbeda dengan furnitur baru yang mulus, konsumen justru akan menemukan lubang-lubang bekas paku, baut, ataupun kawat di permukaan kayu. Namun demikian, ketidaksempurnaan tersebut justru menghasilkan kesan unik dan antik.

Namun demikian, Suwartini tetap memilih dan menyeleksi palet-palet kayu yang akan digunakan sebagai bahan baku. “Meski bentukannya tak sempurna, kami pastikan kayu-kayu tersebut kuat dan bisa digunakan dalam jangka waktu lama,” kata Suwantini.

Seiring meningkatnya permintaan dari buyer asing, Irianto terus mendorong kapasitas produksi dengan cara menambah jumlah karyawan. Jika di awal dia hanya memiliki 10 orang perajin kayu, kini Irianto dibantu oleh 60 orang perajin tetap. “Saya juga mengusung konsep perajin plasma. Jumlah perajin plasma yang saya bina mencapai 100 orang perajin.”

Untuk bahan baku, CV Nuansa Kayu Bekas mendapatkan kayu-kayu bekas tersebut dari rekanan supplier. Sedangkan, Irianto mendapatkan material kayu kapal dari beberapa nelayan dari berbagai daerah di Pantai Utara Pulau Jawa, antara lain Madura, Jember, Banyuwangi, dan Tuban.

Sumber : Bisnis.com (JAKARTA)

 
Top