Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Kondisi Peminat Masyarakat di Sumatera Utara untuk Investasi di Pasar Modal

Investasi sangat penting untuk mempersiapkan masa depan. Dengan investasi, maka membuat uang menjadi lebih banyak karena investasi itu sendiri. Namun, keadaan di Sumatera utara untuk saat ini peminat investasi masih kurang, khususnya di pasar modal. Sampai sekarang minat masyarakat Sumatera Utara untuk investasi di Pasar Modal masih sangat kecil, namun Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara tetap menargetkan tahun 2014 ini ada penambahan investor baru di pasar saham sebanyak 2.000.

Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Medan Muhammad Pintor Nasuiton kepada wartawan dalam acara workshop wartawan dengan materi "Mekanisme Perdagangan dan Market Update pada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Kopitiam Jalan H Adam Malik Medan Senin (6/10).Selain Pintor, hadir pembicara lainnya Jefri Nadapdap dari PT Indopremier Securities (Ipot).

Pintor menyebut pada Januari jumlah investor saham di Sumut sebanyak 17.689 dan sampai Agustus 2014 mencapai 18.830. Artinya dalam kurun waktu delapan bulan ada penambahan investor baru 1.150. Jadi target sampai akhir tahun 2014 ada penambahan investor baru mencapai 2.000.
Dari jumlah 18.830 itu sebanyak 15.300 yang aktif dan dari jumlah ini pula hanya 2.527 yang login ke bursa saham. Kondisi investasi saham di Sumut menurutnya, berada di urutan ketiga di luar Jakarta setelah Bandung dan Surabaya.

Tapi diakuinya kalau minat masyarakat Sumut masih kecil untuk investasi di pasar saham, terutama dari daerah-daerah seperti Humbahas dan Pakpak Barat masing-masing hanya terdata 1 investor, Nias Selatan 4 investor, Padang Lawas 5 investor, Tapsel 5 investor, Paluta 2 investor. Selebihnya di atas 10 investor dan paling banyak di Medan mencapai 15.639 investor, Deliserdang 996 investor, Pematangsiantar 429 investor, Binjai 380 investor, Tebing Tinggi 194 investor, Langkat 161 investor, Tanjungbalai dan Labuhanbatu 145 investor.

Menurutnya, kecilnya minat masyarakat di daerah untuk investasi saham karena beberapa hal antara lain banyak yang menilai investasi di pasar saham tergolong judi, mereka menilai investasi saham butuh dana besar, terlanjur terbiasa kalau untuk investasi uang ada barang yang diterima dan langsung memegang fisik barang tersebut. Sedangkan di saham hanya terdata melalui kertas-kertas saja.

Selain itu latar belakang pendidikan masyarakat di daerah masih banyak tergolong lebih rendah dibanding di perkotaan. Di daerah kalau generasi pertama ada yang masih tamat SD dan SMP, sedangkan generasi kedua yang tamat SMA ke atas sehingga kalaupun mereka ada dana, tapi kurang berminat untuk investasi tanpa langsung memegang fisik barangnya.

Kondisi Politik
Gonjang ganjing politik di Indonesia, tambah Pintor, utamanya saat ricuh di parlemen kemarin membuat investor asing (Senin sampai Jum'at 3 Oktober 2014) menarik dananya hingga Rp 6 triliun lebih. "Namun Senin kondisinya mulai kembali agak pulih kembali, sudah ada kenaikan dengan memasukkan kembali dananya ke bursa ," katanya.

Ia menilai masalah politik memang cenderung berpengaruh pada pergerakan bursa saham. Investor asing yang mendominasi pasar modal sampai 60 persen saat ini masih "wait and see", namun dengan sikap menarik dananya dari bursa saham. Setelah kondisi kondusif, mereka memasukkan dananya kembali. "Investor asing bisa dalam hitungan detik menarik dananya jika mereka menilai suasana politik tidak stabil. Belum ada peraturan khusus yang menghempangnya," jelas Pintor.
Sekarang ini, setelah Pemilihan Presiden dengan Presiden terpilih Joko Widodo aman maka investor masih menunggu siapa pula menteri-menterinya. Ia menambahkan secara nasional total jumlah investor (lokal dan asing) saham di BEI posisi Agustus 2014 mencapai 400.000 terdiri dari lokal sekira 160.000 dan asing lebih besar sekira 240.000 (60 persen).

Namun investor saham ditambah reksadana sampai Agustus 2014 mencapai 2.837.060 terdiri dari lokal 1.012.088 (35,67 persen), paling banyak institusi 839.145 (82,91 persen), individu 170.781 (16,87 persen) dan lain-lain 2.163 (0,21 persen).

Investor asing total 1.824.972 (64,33 persen), paling banyak juga institusi 1.247.846 (68,38 persen), individu 24.152 (1,32 persen) dan lain-lain 552.974 (30,30 persen). September 2014, volume transaksi saham mencapai 5.200 lembar saham setiap hari dengan nilai sekira Rp6,1 triliun per hari.
Pada minggu-minggu terakhir September 2014, transaksi tak sampai Rp5 triliun, menurun dibanding tahun 2013 transaksi per hari mencapai Rp6 triliun hingga Rp7 triliun. "Penurunan transaksi akhir September dipicu dengan kericuhan pemilihan ketua DPR dan MPR yang terimbas negatif di pasar saham," katanya. (wie)

Sumber : beritasore.com , MEDAN
 
Top