Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

KSEI dengan KSD untuk mengembangkan Sistem Pengelolaan Investasi Reksadana di Indonesia

Sungguh prestasi yang luar biasa yang diperoleh Indonesia karena pihak dari Korea siap untuk meningkatkan investasi khususnya di bidang Reksadana di Indonesia. Para pebisnis atau pengusaha melakukan kerja sama untuk pengembangan investasi khsusnya dalam bidang reksadana supaya keadaan ekonomi semakin menjadi lebih baik.



Dari kiri-kanan: Jaehoon Yoo (Chairman & CEO KSD), Nurhaida (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK) dan Heri Sunaryadi (Direktur Utama KSEI) (Foto:ist)

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu dengan Korea Securities Depository (KSD), Senin (22/9/2014).

Penandatanganan dilakukan di Ruang Gamelan, Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, oleh Heri Sunaryadi, Direktur Utama KSEI dan Jaehoon Yoo, Chairman & CEO KSD, serta disaksikan oleh Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penandatanganan MoU ini mengawali kerjasama KSEI dengan KSD untuk mengembangkan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu di Indonesia. Kebutuhan infrastruktur yang memadai sesuai tuntutan perkembangan dan pertumbuhan industri Reksa Dana di Indonesia diharapkan dapat dijawab dengan pengembangan sistem ini.

Melalui infrastruktur yang akan dikembangan ini, diharapkan industri Reksa Dana dapat lebih cepat tumbuh dengan proses bisnis yang lebih efisien untuk para pelaku. Saat ini para pelaku di industri Reksa Dana seperti Agen Penjual, Manajer Investasi, Bank Kustodian termasuk Perusahaan Efek masih saling terhubung dengan cara yang beragam, dengan sistem yang dikembangkan oleh masing-masing pelaku.

Masih banyaknya proses yang manual dijalankan dan tidak adanya standar baku untuk berinteraksi antar pelaku tentunya menjadi kendala untuk mengembangkan pasar Reksa Dana karena proses menjadi tidak efisien dan menimbulkan biaya tinggi.

Sebagai informasi, kondisi di Indonesia saat ini, mirip dengan kondisi yang dialami di Korea Selatan sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat KSD mulai membangun infrastruktur untuk industri Reksa Dana. KSD yang menjalankan peran sebagai Lembaga Kustodian Sentral dan Kliring di Korea Selatan saat itu mulai melakukan pengembangan FundNet, sebagai sistem untuk pengelolaan investasi terpadu. Sistem ini menghubungkan semua pelaku di industri Reksa Dana dalam suatu platform terpadu.

Setelah krisis Asia tahun 1998, industri Reksa Dana di Korea menurun dan cenderung stagnan, hingga tahun 2005 saat KSD bersama regulator pasar Korea mengimplementasikan sistem FundNet. Selama hampir 10 tahun, sistem ini secara nyata membuat industri Reksa Dana di Korea Selatan berkembang sangat pesat. Nilai total NAB Reksa Dana di pasar Korea naik sebesar US$150 miliar pada pertengahan tahun 2014.

Secara operasional jumlah order subscription meningkat hingga 11 kali atau 2,7 juta order dan order redemption meningkat hingga 7 kali atau 1,7 juta order. Dengan adanya sistem ini, peningkatan order tersebut dapat ditangani para pelaku secara efisien sehingga biaya operasional dapat ditekan hingga US$67 juta per tahun.

Sementara itu, belajar dari kesuksesan KSD dalam mengembangkan infrastruktur untuk industri Reksa Dana ini, melalui MoU pengembangan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu, KSEI juga dapat mengembangkan dan menerapkan hal yang sama di pasar modal Indonesia. Pengembangan industri Reksa Dana ini juga sejalan dengan tujuan pengembangan pasar modal untuk peningkatan likuiditas dan juga pendalaman pasar.

Selain efisiensi proses bisnis dan operasional, infrastruktur ini juga akan memudahkan para pelaku dalam melakukan fungsi pelaporan kepada OJK sebagai otoritas. Dari sisi OJK tentunya hal ini juga akan mendukung fungsi pengawasan, sehingga industri ini dapat berkembang dengan pesat namun investor juga dapat lebih terlindungi.

Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengatakan, Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu perlu dikembangkan di Indonesia karena di industri saat ini banyak proses dilakukan secara manual dan tidak terstandardisasi sehingga usaha untuk mengembangkan bisnis Reksa Dana otomatis berdampak pada peningkatan biaya sehingga tidak efisien

“Dalam skala industri, hal ini yang akan kami atasi yakni melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi. Dengan demikian potensi industri dapat berkembang namun tetap efisien dari sisi biaya,” tambahnya dalam keterangan tertulisnya hari ini.

Berdasarkan data OJK per tanggal 16 September 2014, tedapat 822 Reksa Dana dengan jumlah total sekitar 129 miliar unit penyertaan Reksa Dana yang dikelola oleh 75 perusahaan Manajer Investasi. Jumlah tersebut dapat semakin meningkat apabila didukung infrastruktur yang memadai dan memberikan kemudahan bagi investor.

Sumber : KRONOSNEWS.COM
 
Top