KLIK DI SINI untuk mengetahui PANDUAN, BIMBINGAN GRATIS sehingga Anda bisa MENGHASILKAN MILIARAN RUPIAH melalui BISNIS ONLINE cukup dengan menggunakan fasilitas GRATIS di internet KLIK DI SINI

Menabung Pohon adalah Investasi yang Terus Hidup atau Investasi yang Tidak ada matinya sampai kapanpun

Cara menabung saat ini sangat bervariasi. Tidak hanya menabung di bank saja untuk melindungi uang setiap orang. Dengan menabung pohon atau investasi kayu maka uang setiap orang tidak hanya terlindungi namun bisa meningkat pesat dengan menabung pohon atau kayu. Tentu saja kayu itupun juga harus tahu bagaimana merawatnya dan ketika sudah besar akan dipasarkan ke mana. 

Perlu diketahui bahwa investasi bisa dilakukan juga dilakukan dengan membeli saham, obligasi, emas, tanah dan property. Selain itu menabung juga bisa dilakukan dengan cara investasi nabung pohon alias berkebun. Dan ini ternyata tak kalah menjanjikan untung yang bisa membuat gemuk rekening kita di bank.

Investasi di bidang perkebunan cukup prospektif dan menguntungkan . Bukti kongretnya, BUMN seperti; PTPN hingga kini tetap eksis dan banyak menyumbang pendapatan untuk negara. Belum lagi perusahaan swasta yang juga tak ketinggalan beramai-ramai melirik bisnis dan menginvestasikan modalnya di bidang perkebunan.

Kini semua baik perusahaan maupun perorangan berlomba-lomba berinvestasi dengan berkebun kelapa sawit dan karet. Selain itu juga banyak yang melirik untuk berinvestasi untuk menanam tanaman industryi seperti; jabon, akasia, jati, kayu afrika, gaharu dan yang lainnya.

Bagaimana orang tidak tergiur untuk menabung pohon, kalau hasilnya menjanjikan. Simak saja , pengalaman kawanku Joko yang berinvestasi dengan berkebun karet di desanya. Siapa tahu bermanfaat dan menginspirasi siapa pun yang membaca tulisan ini.Joko bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bandar Lampung. Dia berasal dari Daya Murni, Kabupaten Tulangbawang Barat, Provinsi Lampung.

Sudah sejak 15 tahun lalu sembari bekerja Joko Sutrisno menanam karet di lahan seluar 1 hektar yang dibelinya seharga Rp.15.000.000,- ( Rp.15 juta). Dia memilih menanam karet, karena karet merupakan salah satu kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Memang berkebun karet merupakan investasi jangka panjang, karena setelah jangka waktu 4 – 5 tahun kita baru bisa menikmati hasilnya.

Menurut pengalaman Joko Sutrisno untuk lahan seluas 1 hektar (10.000 meter persegi) miliknya membutuhkan dengan jarak tanam 4 X 5 meter membutuhkan 500 batang bibit karet. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembersihan lahan dan penanaman Rp.2.000.000,- Sedangkan biaya pemeliharaan (pertunasan, pemupukan dll) selama lima tahun menghabiskan dana Rp.10.000.000,-. Total biaya investasi yang dikeluarkan Rp.27.000.000,- (dengan rincian harga tanah Rp.15.000.000,-, pembersihan lahan dan penanaman Rp.2.000.000,- dan biaya pemeliharaan Rp.10.000.000.-).

Pendapatan rata-rata panen selama 10 tahun, rentang mulai karet berusia 6 tahun hingga 15 tahun. Dengan asumsi setiap bulan menghasilkan 500 kg karet basah dengan harga Rp.8.000,- menghasilkan pendapatan kotor Rp.4.000.000,-. Sedangkan pendapatan bersihnya setelah dikurangi upah menderes Rp.1200.000,- perbulan menghasilkan Rp.2.800.000,- perbulan. Hitungan kasarnya untuk penghasilan selama 10 tahun ( masa panen 6 – 15 tahun) totalnya 10 X 12 X Rp 2.800.000 = Rp.336.000.000,-. Pendapatan dari investasi berkebun selama 15 tahun Rp.336.000.000,- - Rp.27.000.000 (total investasi) = Rp309.000.000,-.

Berdasarkan pengalaman tanaman karet masa produktif hingga berusia 35 tahun kalau dibarengi dengan pemeliharaan yang baik dan intensif. Kebun Joko Sutrisno masa produktifnya masih tersisa 20 tahun lagi. Jadi bisa dihitung berapa jumlah keuntungan yang bisa ditangguk. Maka sahabatku Joko kini dengan tenang membiayai pendidikan anak-anaknya dari tambahan hasil kebun karetnya.

Terbayang sudah setidaknya ratusan juta rupiah akan masuk ke rekening kita. Dan yang perlu diketahui jika sudah tak produktif kayu karet seluas satu hektar masih dihargai puluhan juta oleh pabrik pengolahan kayu untuk bahan baku partikel board. Tentunya akan menambah gemuk rekening kita di bank.

Bagaimana tertarik ? Jangan hanya sibuk menghitung-hitung keuntungan Joko. Kalau mau seperti Joko ambil keputusan untuk segera memulainya. Nabung pohon, nggak ada matinya. Kenapa nggak dimulai dari sekarang. Yuk, nabung pohon, kawan.

Sumber : green.kompasiana.com
 
Top