Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Pendapat Yusuf Mansur tentang Investasi Syariah

Banyak pihak kini telah digandrungi dengan pola syariah dan hampir semua yang dianggap syariah adalah pasti halal. Dulu kata syariah belum begitu tenar, namun saat ini dengan syariah bisa membuat masyarakat Indonesia menjadi yakin dengan metode syariah.

Bisnis investasi patungan dijadikan sumber pendanaan. Dalam waktu singkat, miliaran uang masyarakat terkumpul. Karena tak berizin, OJK menyalakan lampu kuning.

YUSUF Mansur tidak hanya kondang sebagai penceramah agama. Belakangan ustad muda ini juga disebut-sebut sebagai juragan berkantong tebal. Dalam beberapa ceramahnya ia memperlihatkan kemampuannya untuk memiliki bank syariah di Indonesia. Kepada Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pengasuh Pondok Pesantren Daarul Quran, Tangerang, ini pernah menyampaikan hasratnya untuk membeli Bank Muamalat.

Akan tetapi, untuk mewujudkan keinginannya itu, Yusuf tentu mesti punya dana besar. Lalu, jika niat memiliki bank syariah itu bukan main-main, dari mana sumber uangnya? Rupanya, sejak medio tahun lalu, Yusuf mulai merintis bisnis investasi bernama Patungan Usaha dan Patungan Aset. Melalui bisnisnya itu, Yusuf menggalang dana dari masyarakat, yang kemudian diinvestasikan ke sejumlah sektor industri, seperti sektor properti.

Yusuf boleh jadi lebih hebat daripada perbankan dalam mengoleksi dana. Ketika bank-bank kesulitan likuiditas, dalam hal ini pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tak secepat pertumbuhan kredit, ia justru dengan mudah mendapat investor dan mampu mengoleksi dana masyarakat dalam jumlah besar. Dalam waktu relatif singkat, Yusuf berhasil mengajak ribuan orang sebagai investor dan mengumpulkan dana lebih dari Rp24 miliar.

Hebatnya lagi, ketika bank-bank harus berhadapan dengan nasabah kutu loncat yang hanya mencari profit, investor bisnis investasi Yusuf justru tak sedikit yang meregistrasikan dirinya sebagai Hamba Allah alias tak mencantumkan identitas diri dengan jelas. Itu artinya, sebagian investor Yusuf rela jika uang investasinya tak kembali. Sekadar informasi, untuk model Patungan Usaha dana investasinya Rp12 juta per investor, sementara untuk Patungan Aset Rp2 juta per investor.

Dalam menggaet investor, ustad kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976, ini menawarkan kepercayaan. Tawaran investasinya dikelola sendiri, tanpa bernaung pada suatu badan hukum usaha tertentu. Melalui situs resminya, ia menyatakan sanggup menjadi wali amanah dari bisnis investasinya. “Insya Allah saya bisa dah jadi wali amanah, dalam bahasa bisnis disebut trustee,” katanya. Bisnis investasi Yusuf yang melibatkan masyarakat ini lahir dilatarbelakangi niatan mengajarkan konsep kewirausahaan kepada publik.

Niat Yusuf menyebarkan virus usaha mandiri kepada masyarakat merupakan suatu hal yang baik. Sayang, bisnis investasi Yusuf itu belum disertai izin, seperti izin usaha lembaga investasi yang menghimpun dana masyarakat seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8/1995 tentang Pasar Modal. Alhasil, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menyemprit bisnis investasi Yusuf dan memintanya untuk mengurus perizinan sekaligus membentuk badan hukum usaha untuk menaungi bisnisnya itu. Usai bertemu OJK, Yusuf menegaskan komitmennya untuk melengkapi legalitas bisnis investasinya.

Bisnis investasi Yusuf juga menjadi perhatian karena mencuat tak lama setelah kasus investasi emas bodong yang dikembangkan Golden Trader Indonesia Syariah (GTIS). April lalu para investor GTIS terpaksa menelan pil pahit karena uang investasinya sebesar Rp10 triliun dibawa kabur Michael Ong, Direktur Utama GTIS.

Imbasnya, ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa bisnis investasi Yusuf juga bodong alias ilegal. Namun, dengan tegas Yusuf membantah hal itu. OJK sendiri menilai bisnis investasi Yusuf bermasalah pada soal izin dan cara-cara mengumpulkan dana masyarakat yang tak sesuai dengan aturan. Namun, aktivitas usaha yang dilakukan Yusuf tetap diperbolehkan. Terkait dengan legalitas, OJK memberi saran, Yusuf bisa membentuk perseroan terbatas (PT) yang kemudian listing di bursa atau membentuk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

Menyoroti bisnis investasi yang dikembangkan Yusuf, kalangan perbankan syariah menilai bahwa hal itu merupakan inovasi dan usaha Yusuf untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Hanya saja, aspek regulasinya belum terpenuhi. “Ini ‘kan ikhtiarnya Yusuf Mansur ya. Sekarang dengan adanya aturan yang harus dipenuhi itu akan memperbaiki,” kata U. Saefudin Noer, Head of Syariah Banking CIMB Niaga, kepada Infobank, akhir Juli lalu, di Jakarta.

Sebagai tambahan, Saefudin juga memberi masukan bahwa pada industri keuangan dunia juga berkembang sebuah model skema investasi yang menghimpun modal-modal individual yang khusus mengakuisisi aset. Model ini dikenal sebagai perusahaan akuisisi untuk tujuan khusus atau special purpose acquisition company (SPAC). SPAC ini mungkin saja dapat dijadikan acuan bagi Yusuf untuk memperbaiki kegiatan bisnis investasinya. Sekilas, model investasi yang dikembangkan Yusuf memang menyerupai konsep SPAC. “Jadi, SPAC ini bisa berbentuk badan hukum PT dan itu dananya dari masyarakat. Mereka berpatungan untuk mengakuisisi aset,” ujar Saefudin lagi.

Hanya saja, apabila SPAC belum diatur di Indonesia, melalui bisnis investasi yang dikembangkan Yusuf, Saefudin menambahkan, sekarang ini bisa jadi kesempatan bagi regulator untuk membahas SPAC agar ke depan dimungkinkan SPAC ada di Indonesia. Sebab, mungkin saja di luar sana, di kalangan masyarakat, berkembang model bisnis yang sama dengan bisnis investasi Yusuf sehingga nantinya jenis-jenis usaha investasi yang dikelola masyarakat bisa tertib. Sejumlah negara yang telah mengatur SPAC, antara lain China, Singapura, dan Malaysia.

Market atau masyarakat pemilik dana yang dilayani perbankan, baik konvensional maupun syariah, terbagi menjadi dua kelompok atau nasabah, yaitu rasional dan emosional. Nasabah rasional lebih mempertimbangkan aspek logis dalam berinvestasi dan banyak dilayani oleh perbankan konvesional, sedangkan nasabah emosional berinvestasi karena pertimbangan aspek religi dan keyakinan, yang lazim mengedepankan label halal-haram, dan banyak dijumpai pada perbankan syariah. Nasabah emosional itu juga terbagi antara yang memahami produk-produk investasi dan yang tidak. Mereka yang memiliki financial knowledge yang memadai dapat membedakan mana produk investasi yang aman dan tidak.

Perbankan syariah akan sulit untuk tumbuh besar jika hanya mengandalkan nasabah emosional sebab jumlah nasabah itu sedikit. Belum lagi ada lembaga-lembaga di luar bank yang juga menawarkan produk-produk investasi, yang juga berlabel agama atau syariah. Mereka, lembaga investasi nonbank itu, mengincar nasabah yang kurang memahami investasi. Hasilnya, ada sebagian masyarakat yang terjebak dalam investasi bodong, baik yang berlabel syariah maupun tidak. Contohnya, selain GTIS tadi, ada Koperasi Langit Biru, investasi kebun emas, dan Raihan Jewellery. Nahasnya lagi, karena bukan bank, dana investasi melalui perusahaan investasi nonbank tak ada yang menjamin. Berbeda dengan bank yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Perbankan syariah harus meningkatkan sosialisasi dan edukasi mengenai produk-produk perbankan syariah kepada masyarakat. Tujuannya, selain memperluas pengetahuan publik, hal itu untuk melindungi masyarakat dari investasi-investasi ilegal, khususnya yang berlabel syariah.
 
Top