Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Penjelasan Riba atau Tidak Riba di Bank Syariah

Bank Konvensional (seperti bank BRI, BCA, Mandiri, BNI, dsb) dan bank syariah contohnya adalah BNI Syariah, BRI Syariah, Syariah Mandiri dan lain sebagainya telah dikenal hampir di seluruh masyarakat Indonesia. Di sini akan dijelaskan, tentang hukum riba atau tidak tentang bank syariah atau dari sudut pandang yang mana bisa dikatakan riba.

Banyak Bank yang menamakan dirinya "Bank Syari'ah" melalui produk Mudharabah Syari'ahnya apakah masyarakat umum mengetahui bahwa itu benar-benar sesuai Syari'ah atau tidak ?

Logika yang paling mudah adalah :

    Riba = Mendapat Keuntungan dari Piutang
    Kerjasama Investasi = Kerjasama Bagi Hasil dan Bagi Rugi, artinya pihak investor terlibat dan juga bertanggung jawab terhadap pendapatan atau kerugian-kerugian.

Gampang bukan ? kita tidak perlu susah payah mendalami perbankan syariah oleh para pakar di dunia syariah di Indonesia dengan janggut dan jidat bekas sujudnya, percayalah .. akal diberikan untuk menerangi hati kita secara timbal balik.

Dalam praktik produk mudharabah di bank syariah terdapat persyaratan kontroversial, yaitu pihak mudharib (pengelola dana) diharuskan menjamin dana yang diberikan bank dari segala bentuk kerugian. Produk ini dianggap sebagai ijtihad baru dalam mudharabah yang tidak ada sebelumnya. Produk ini diberi nama  mudharabah musytarakah.

    Jika mudharib disyaratkan menjamin dana yang diterimanya dari kerugian, akad mudharabah berubah menjadi qardh. Dan ketika pihak pemberi dana menerima bagi hasil sesungguhnya ia menerima bunga (riba). Karena akad mudharabahnya telah berubah menjadi akad pinjaman berbunga tidak tetap. Hal ini disepakati keharamannya oleh para ulama karena termasuk riba dayn.

Sumber : http://lawansetan.blogspot.com
 
Top