Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

ASING-ISASI

Mas menurut anda para konglomerat keturunan china-china itu aset bangsa atau penjahat? Sebuah kalimat di lontarkan dalam rapat perusahaan tadi pagi kepada saya khususnya si kuli pena (karena suka nulis). Rapat kali ini agak sengit karena ada 2 kubu besar yang mengeras, berdebat beda pendapat.

Satu pendapat adalah kita menyerah dengan BUMNisasi yang membantai perusahaan kelas menengah dan atas di bidang oil n gas, dan menyerah dalam artian kita exit keluar, jual ke asing.

Pendapat yang berseberangan adalah yang kedua tetap bertahan dengan memangkas 50% karyawan dan menghentikan sebagian pekerjaan yang “heavy cost” dan long term cost di tutup.

Ini perdebatan yang harus di putuskan hari ini juga karena sudah kepanjangan bisnis di jaman BUMNisasi ini memberatkan kami. Setahun lebih kami tarik ulur mundur maju. Hari ini, harus ada kesepahaman dan keputusan. Sejak jam 8 pagi teng, diskusi dan perdebatan menyengit.

Saya sudah bulat sejak tahun lalu, jual ke asing.

Ikuti langkah kabinet pemerintahan saat ini FDI foreign direct investment. Jual mayoritas ke perusahaan asing. Masak pemerintah boleh kita masih harus sok NKRI , bertahan. Pemerintah sekarang saja menjual dan membiarkan kepemilikan asing masuk, sama penggemarnya di bilang kebenaran tertinggi, di bilang bagus dan benar. Kenapa kita tidak melakukan yang sama.

Dari pada memPHK separuh karyawan? Walau masih “memiliki” perusahaan, lah kalau pemerintahnya begini terus. Sampai kapan? Malahan nanti nilai perusahaan keburu nol. Jadi malah hilang karyawan, hilang kepemilikan, hilang semua.

Karuan sekarang jual, ambil duit, taruh di singapur, ongkang ongkang kaki, wuenak khan? .contoh?  Itu Gudang Garam sudah exit, kita dong ikut exit. Jual rugi dalam kalkulasi biar ngak kena pajak gede. Atau jual kepemilikan kita yang diluar yang trust fund. Balik tangan yang saham  di luar. Khan ngak ngerti negara kayak begini transaksinya. Transaksi antar negara ngak bisa lihat. Dari pada di kena pajak lagi. Exit saja yang diluar deh.

Saya arahnya jelas. Tiru pemerintah. Asing-isasi

Sampailah kalimat pertanyaan di atas keluar dari mulut mitra saya. Dia pemilik saham terbesar di usaha kami yang nota bene keturunan china. Walau 20 tahun kami bersama sebuah keptusan harus kami ambil walau kami beda pendapat, karena pada dasarnya kali ini bisnis kami tidak tahan lagi. Dan dia memilih bertahan. Beseberang dengan saya. Dia memilih PHK karyawan dan hibernasi.

Dalam hati saya bilang, dia ini yang keturunan china lebih NKRI dari pemerintah sekarang. Saya saja tidak kuat lagi. Saya lebih pilih tiru pemerintah dengan asingisasi, keluar biar asing beli. Toh tidak ada yang mempermasalahkan dimiliki asing itu. Buktinya keputusan kepemilikan asing boleh dan rapopo bahkan masih di dukung 70% pendapat suara rakyat yang di survey masih suka dengan penguasa incumbent. Saya ikut jual tanah air juga dong .

Kembali kepertanyaan di atas, Mas menurut anda para konglomerat indonesia ketrurunan china itu aset bangsa atau penjahat?

Saya terdiam lama, saya tidak jawab. Ini pertanyaan dalam. Sangat dalam. Saya berfikir panjang dan ruanganpun hening. Saya bukan pemimpin sidang rapat kali ini, saya di posisi samping duduknya dekat  pemilik saham terbesar si keturunan china tadi yang bertanya hal ini.

Ada 3 menitan saya diam, hingga saya mengucapkan kalimat, konglomerat keturunan china itu aset bangsa. Aset bangsa indonesia!!,  demikian jawaban saya.

Dia kemudian berkata, Kalau mereka aset bangsa kenapa di musihin? Kenapa yang di bilang aset bangsa itu hanya BUMN? Demikian nada sengit keluar dari mulutnya. Kalau aset bangsa di urusin dong, di bantuin, di arahkan, di kendalikan , di emong, bukan di sudutkan, di salahkan, di musuhi, ya jadi musuh beneran ya kita yang rugi sendiri.

Jujur deh, asset BUMN kalau semua di total sama satu sinarmas group saja kalah besarnya. Misalnya kita mau bisnis perlu 100.000 ha lahan. Lalu kita minta kepemerintah sekarang, kita mau beli dengan harga premium, saya yakin pemerintah ngak bisa nyiapkan tanah sebegitu besar. Izin inter dept antar departemen 4 tahun ngak kelar. Belum lagi tanahnya lokasinya ngak bagus, belum ada infrastruktur dan fasilitas  penunjang lainnya.

Sementara,  coba kita tanya ke Jababeka, tanya salim group, tanya astra group, punya mereka tanah yang clean clear. Tinggal bisnis kita.

Terus mengapa sih kesannya mereka itu  di musuhi oleh kebanyakan dari pendapat kita? Apa salahnya si pebisnis keturunan ini. eh mereka sudah 4 generasi di Indonesia. Tanah mereka di tiong kok sudah kaga ada. Hidup mati mereka ya di indonesia. Kalau mereka aset bangsa, ajak bicara, ekonomi muter cepat pastinya, mereka mau berbagi pasti kok selama fair. Mereka punya hati kok.

Kalau pejabat  BUMN itu cuma 5 tahunan, ngak mikir panjang. Mending memanfaatkan para konglomerat ini, sudah punya banyak infrastruktur dan manajemennya. Nah memang sih karena sering melihat berdasar “pendapat populer”, seakan-akan memusuhi mereka , pengusaha seakan mendapat dukungan masyrakat banyak. Itu salah besar. Itu berbahaya. Itulah penyebab perpecahan. Katanya bhineka tunggal ika. Mana buktinya, ngomong kemana kelakuan kemana.

Jadi debat panjang hari ini kami akhirnya mendapatkan kesimpulan baru 30 menit yang lalu rapat di tutup. Perusahaan 51% jual ke asing!!, yeee saya teriak kegirangan. Akhirnya bisa pegang duit. Walau sekarang lagi hitung kalkulasi berapa nilai yang pantas bagi investor masuk. Dan juga belum tentu ada yang beli cepat, tapi sisi lain di pikiran saya, ada peluang cash keras masuk. Sudah kering lama nih gara-gara BUMNisasi. Selamat ya rinso, anda menang dan sukses bikin asing masuk lagi. #BUKUSADARKAYA #MEETGREETEAT #peace



Tambahan dari Kang Rendy Saputra
Ini mengapa Saya sepakat Indoeskrim masuk KSN...
Ini mengapa Saya pro Perusahaan Nasional...
Ini mengapa Saya demen bawa Indofood masuk...

Karena milik negeri sendiri.....
Begitu ....
Kita Indonesia.....



 
Top