Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Proses Perjalanan Sejarah Mbak Tiwi Tri Widayanti Hijrah dari Riba



Mba rumahnya berapa? 2 kak. Wah hebat ya masih muda udah punya 2 rumah.

Jadi malu dibilang hebat. 1 rumah hasil KPR. 1 rumah beli cash bertahap.

Mau ditaruh mana muka ini sama Allah, malu banget, masak bangga punya rumah hasil riba, padahal dosanya aja yg paling ringan seperti berzina dgn ibu kandung sendiri. Dan kerennya Allah sudah bilang di Alquran bahwa mereka yg melakukan riba maka nyatakanlah perang dengan Allah!

Ada yg berani ngajak perang sama Allah? Na'udzubillah... ya jelas kita bakalan kalah lah ya. Gag seimbang lawannya. Yg punya dunia Allah. Kita ini punya apa selain dosa dosa kita?

Duluuuu bangetttt awal tahun 2015 saya bilang sama Allah. " Ya Allah, kalau KPR itu ribaaa terus kapan saya bisa punya rumah??? Bayar DP KPR aja saya sudah mati matian. Gag mungkin bisa punya rumah kalau seperti ini Ya Allah "

Dulu saya memang tidak percaya rezki itu datang dari banyak pintu.  Karena pintunya dulu ada di gaji suami. Sama usaha online kecil2an.

Makanya gag mungkin bgt beli rumah cash. Mustahil.

Akhirnya nekaaaattttt KPR rumah yg belum tentu juga disetujui.

Pas platform tembus bahagianya tak terkira. Bahagia bangettttt....

" Alhamdulillah KPR saya disetujui "

Beuhhhh padahal itulah awal petaka. Riba yg dosanya ngeribanget.

Waktu saya posting di Facebook, ada yg ngingetin tentang riba. Dan saya adalah orang yg paling keras menentang. Gag mungkin bisa punya rumah kalau gag KPR. KPR itu solusi buat kami yg penghasilannya tak seberapa. Riba atau tidak biarlah urusan saya sama Allah.

Itu pembelaan saya kala itu 😭

Lambat laut usaha saya makin besar, tapi ada ketidakbahagiaan dalam keluarga kami. Bukan saya bertengkar sama suami. Jarang sekali. Kehidupan kami harmonis. Tapi anak kami sering sakit tak kunjung sembuh. Hikz ada apa ini. Banyak uang tapi uang selalu habis. Seperti tidak berkah 😭

Bolak balik masuk rumah sakit. Dan gag sembuh sembuh juga. Hampir putus asa.

Saya doa sama Allah, " Ya Allah ada apa ini? Kenapa kakak fathima sakitnya gag sembuh sembuh. Kasian Ya Allah. Biarkan sakit ini gantikan saja ke saya ".

Sudah hopeless banget saat itu.

Lalu dalam perjalanan pulang naik mobil, qodarulloh saya pengen dengerin radio. Saat itu ada tausiyah. Dan tanya jawab.

Kenapa Imam Syafii bisa sangat cerdas?

Karena bapaknya tidak pernah memberikan nafkah dari jalan yg syubhat serta haram. Bapaknya memastikan makanannya bener bener halal.

Pecahlah tangis kami.

Akhir desember 2015 kami berazam kami harus perang melawan riba.

Semua asuransi ditutup, kartu kredit digunting, selesaikan masalah masalah riba lainnya.

Sampai sekarang masih berjuang. Tadinya kami memilih rawat jalan. Alhamdulillah sekarang kami memutuskan untuk amputansi. Sudahlah ludes biarkan semua ludes.

Yang penting tak ada lagi riba diantara kami.
Abis ini kami tidak punya rumah lagi. Jual 😂😂.

Apa yg kami cari? Sudah punya keluarga yg alhamdulillah baik baik. Punya sahabat baik baik. Punya Allah yg sangat luar biasa. Apalagi yg akan kami cari? Selain menjadi sebaik baik manusia yaitu manusia yg bermanfaat utk yg lainnya.

Sekarang fokus kejar akherat tapi jangan lupakan dunia. Jadi bukan dibalik ngejar dunia tapi jangan lupa akherat.

Kejar Allah dulu, Allah yang punya dunia, maka dunia kelak akan tunduk sama kita.

Nahh cara ngejar Allah ya dengan cara taat sama Allah. Allah sudah bilang riba haram ya jelas haram. Jangan menentang murka Allah.

Kalau mau hidup di dunia dengan baik maka ikuti aturan dari Allah.

Sering saya bahas tentang riba, setelah itu yg terjadi adalah pembullyan. Haha. Sudahlah salah, malah menyalahkan hukumnya Allah, malah menyalahkan ulama yang membawakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan malah menuntut agar syariat Islam disesuaikan dengan nafsunya.

Lalu yang jadi Tuhan siapa? Allah atau manusia?

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS Al-Furqaan [25]: 43)

Hanya kepada Allah tentu kita menyembah, artinya hanya pada Allah seluruh ketaatan atas peraturan. Kalaulah kita belum bisa melaksanakannya, maka berdoalah semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya, dan keseriusan dalam melaksanakannya.

Janganlah kita jadi orang yang menentang, bahkan menjadikan diri kita sebagai pembuat aturan setelah Allah menurunkan syariat yang jelas yaitu Islam. Tugas kita memahami aturan Allah bukan membuat aturan, mencari dalil halal-haram bukan membuat dalil halal-haram.

Keep istiqomah...

Tanpa riba langit masih biru

Tri Widayanti





 
Top