Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Sarjana Teknik ITB lebih Memilih Bisnis Jangkrik dengan keuntungan 4 Miliar per Tahun dibandingkan bekerja kepada orang lain

Sungguh keberanian yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh Bambang Setiawan. Meskipun seorang Sarjana dari ITB, dia berani untuk mengambil keputusan untuk memilih bisnis jangkrik dibandingkan bekerja.

Biasanya lulus kuliah wisudawan langsung mencari kerja. Namun Bambang Setiawan justru merintis bisnis yang tidak biasa. Sarjana Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut memilih beternak jangkrik.

Namun siapa sangka, pria kelahiran Cirebon 25 November 1987 itu justru berhasil meraup keuntungan sekira Rp4 miliar per tahun.

"Ketika saya kuliah memang saya sudah aktif berbisnis, tetapi berbeda dengan banyak orang yang bercita-cita pergi ke kota. Kalau saya malah bercita-cita kembali ke desa," kata Bambang kepada Okezone, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Bambang menceritakan, alasan memilih bisnis ternak jangkrik lantaran melihat kebutuhan di tanah kelahirannya akan pemberdayaan dan usaha yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Dia mulai menggeluti bisnis jangkrik pada 2010. Bermodal uang Rp7 juta, Bambang membeli 50 kotak jangkrik dan 2,5 kilogram (kg) telur jangkrik. Dari situ, Bambang mulai memainkan kelihaiannya mengembangbiakkan jangkrik.

Awalnya, usaha Bambang dipandang sebelah mata. Namun dia tak acuh dan terus melakoni usahanya sendiri dengan telaten.

Usahanya pun tidak sia-sia. Ternak jangkrik terus beranak-pinak. "Dari 1 kg telur jangkrik, mampu menjadi 70 kg jangkrik. Pangsa pasar saya lebih kepada pakan burung hias, pakan ikan dan untuk memancing pengganti cacing," tambahnya.

Pria yang menjadi Ketua Kelompok Ternak Trust Jaya Jangkrik ini menjual jangkrik per kg sekira Rp45.000 sampai Rp50.000 kepada agen.

Lama kelamaan, cakupan penjualan jangkrik hasil ternaknya meluas. Bahkan didistribusikan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jabodetabek. Kendati demikian, dia mengaku produksinya lebih besar didistribusikan di Bandung.

Tidak hanya menjual jangkrik hidup, Bambang juga menjual telur jangkrik dengan harga terbilang tidak murah. Per kg-nya dibanderol Rp400.000 sampai Rp450.000.

"Dari modal awal Rp7 juta, omzet per tahun saya mendapat Rp4 miliar. Sebanyak 80 persen dari jual jangkrik, sisanya dari telur," ujarnya.

Dalam satu hari, Bambang mengaku bisa memproduksi 200 kg jangkrik dan 8 kg telur. Semuanya itu siap dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia.

"Kita hanya membuka wilayah ternak di Cirebon saja, karena saya terinspirasi dengan one village one produk," tukas dia.

Tidak hanya di sini, Bambang juga tengah mengembangkan produk turunan dari jangkrik. Dia melirik memproduksi kerupuk jangkrik. “Sekarang produknya baru sebatas produk alpa (belum dipasarkan secara luas),” tutup Bambang.

Dalam kurun waktu lima tahun, Bambang berhasil memberikan lapangan pekerja kepada 65 orang. Bambang mampu menggaji karyawannya sesuai standar Upah Minimum Regional (UMR).

"Karena banyak pegawai dan juga sudah banyak yang mandiri, jadi sekarang saya hanya fokus kepada pemasaran saja. Karena semakin ke sini, harganya semakin kompetitif," tutup dia.
(rzk)

Sumber : http://economy.okezone.com
 
Top