Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

 "Siapa yang bisa menerima kelemahannya, baru saja menambah 1 kelebihan pada dirinya..." dari Dewa Eka Prayoga



Saya termasuk orang yang percaya pada quote tersebut.

Berdasarkan hasil test talent mapping yang Saya lakukan beberapa tahun lalu, harus diakui, Saya memiliki 3 titik lemah dalam diri -dan ini benar-, diantaranya:

1. Empathy
2. Relator
3. Harmony

Yuk kita bahas satu per satu...

Pertama, EMPATHY.

Seperti yang kang Rendy Saputra katakan di statusnya, Saya aselinya emang orangnya cuek. Bahkan, nyebelin. Jadi "ilmu cuek" ini bukan hasil dari latihan, tapi emang bawaan.

Karena sadar bahwa Saya memiliki empati yang rendah, Saya 'pensiun' jadi counselor / konsultan bisnis. Kenapa? Karena profesi tersebut menuntut Saya untuk terus berpura-pura berempati akan masalah mereka. Dan itu bukan Dewa banget. Bohong!

Maka jangan heran, didikan hasil mentor bersama Saya pasti keras. Sangat keras. Cukup nusuk. Gak percaya? tanya kang Rendy. hehe

Termasuk ketika ada yang "nyinyirin" Saya, misalnya:

"Bangkrut kok nulis buku..."
"Tiap hari kok jualan mulu..."
"Ngaku-ngaku Dewa Selling padahal ilmunya sampah..."
"Jualan kok banyak modusnya..."

...dan sejenisnya.

Nyinyiran kaya begitu, beeeuh, jangan tanya. Banyak!

Untungnya, gak terlalu ngefek ke emosi dan pikiran Saya. Kesel dikit paling, selebihnya cuek aja, emang gue pikirin :v

Kok bisa begitu?

Karena Saya pribadi empathy-nya rendah, sangat rendah. Bahasanya kasarnya, "Gue gak peduliin omongan lu. Dan gue gak perlu belas kasian lu..."

By the way, Anda jangan meniru sikap Saya ini....  Jujur, ini kelemahan. Ini sifat buruk Saya. Anda jangan menirunya.

Tapi Saya sadar, ketika Saya tidak berdamai dengan diri sendiri, tidak bisa menerima kelemahan diri, dan selalu berusaha jadi orang lain, maka Saya tidak akan jadi siapa-siapa. Yang ada, capek rasa-rasanya... tersiksa batin. tersiksa hati.

Nah, itu soal empathy....

Jadi, kalau curhat, jangan ke Saya ya. Anda bisa curhat ke tim dan sparring partner Saya, mas Mirza G. Indralaksana, yang memiliki empathy tinggi bawaan bakatnya. hehe

Kedua, RELATOR.

Jangan kira, "menggila"-nya Saya di Facebook, Telegram, WhatsApp, dan Email, itu menunjukkan karakter asli Saya.

Oh, no. Tidak. itu salah...

Saya bukanlah orang ekstrovert, yang terbuka dengan banyak orang dan mudah menjalin relasi. Saya orangnya introvert. Pendiem. Jarang ngomong.

Di offline, Saya lebih banyak mendengarkan cerita orang-orang ketimbang Saya bercerita banyak. Gak percaya? Ayo ketemu Saya, pasti kalau Anda gak nanya, Saya diem. Huahaha 😁

Maka jangan heran, Saya "sulit" diajak kopdar. Saya sebenernya males diajak wiskul (wisata kuliner). Saya gak suka ngumpul-ngumpul. Kenapa? Karena bawaannya, Saya gak suka ketemuan, cara Saya membangun relasi dikatakan buruk. Kalau ada mata kuliahnya, mungkin nilainya "E". Parah ya? hehe...

Sekali lagi, Anda jangan meniru Saya. Jadilah diri sendiri. Saya nulis gini untuk jelasin bahwa Anda mesti menerima kelemahan diri Anda. Berusaha lebih baik itu harus, apalagi yang dicontohkan oleh agama. Itu wajib. Tapi yang gak wajib-wajib amat, jangan memaksakan diri. Jadilah diri sendiri. Be your self! Ceuk motipator mah kitu....

Ketiga, HARMONY.

Ah, ini rasa-rasanya Anda sudah bisa menangkap sinyalnya.

Saya tidak seperti kang Rendy, yang sangat ramah dan menghindari konflik. Selain Saya gak ada target kaya beliau untuk naik jadi presiden, hahaha, emang bawaannya kalau ada apa-apa, Saya berani konfrontir konflik.

Gak percaya? Lihat aja komen2 dan status2 Saya yang seringkali "nyelekit" dan nusuk-nusuk #JLEB. Bahkan, seringkali Saya mengangkat tema postingan yang bernafas kontroversi. Dan ruame! Selain alasan naikin engagement, juga ya itu tadi, Saya gak suka berpura-pura harmonis. Kalau kesel, ya kesel aja. Kalau sebel, ya sebel aja. Lega...

Termasuk dalam hubungan keluarga. Memiliki bakat bawaan dengan harmony rendah, setidaknya memberikan Saya alarm agar tidak kebablasan. Karena mau gak mau, kalau keluarga ya harus harmonis, kan supaya Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

Apalagi pas tahu Saya dan Istri, setelah tes STIFIn, dua-duanya berjenis kelamin sama, yakni SENSING INTROVERT. Beeeuh...!! Konon katanya, kalau jenisnya samaan, susah majunya, sering konfliknya. Ah, lagi-lagi, ini belief negatif yang mesti kami tangkis.

Solusinya, kami berdua harus menyediakan panggung sendiri-sendiri. Akhirnya, istri memberikan keleluasaan bagi Saya untuk membangun Billionaire Store, Billionaire Coach, Mesin Kreativitas, KMO Indonesia, dan Noura Property. Seringkal, waktu Saya sehari-hari banyak habis ngurusin bisnis dibanding ngurusin istri. Heu. Untungnya, istri Saya mengerti. Dan itu semua tidak menyurutkan kita untuk saling mencintai. Cieee.... bidadariuntukdewa.com.

Termasuk Saya ke istri, Saya memberikan keleluasaan waktu pada dia untuk membangun dan mengelola Shaliha Hijab, "Shaliha ini milikmu. Besarkan! Dan aku percaya kamu bisa...".

Kenapa begitu? Karena konon katanya, orang Si itu butuh 'panggung'. Yasudah, Saya kasih. Selain berusaha untuk menjaga keharmonisan keluarga, juga memberikan wadah untuk terus berkarya.

Ya walaupun terkadang istri minta tolong juga sih sama Saya, "Yah, bantu iklankan pendaftaran reseller Shaliha dong... Soalnya lagi open reseller lagi nih".

Jawaban Saya sederhana, "Bun, kalau cuma open reseller mah, ngapain ngiklan. Buat status saja di FB, bilang deh: 'Ayo yang mau join reseller Shaliha Hijab, bisa KLIK link ini ya http://boleh.click/wa/resellershaliha". Udah, gitu doang. hehe...

Intinya kawan-kawan, terimalah dirimu satu paket. Lebih kurangmu. Jangan kesel sama kekuranganmu.

Karena bisa jadi, jika kamu bisa merespon kekuranganmu itu dengan positif, seperti yang sering diajarkan oleh kang Harri Firmansyah R, maka kekuranganmu itu akan menjadi faktor pelesat kesuksesanmu. Wallahua'lam....

Ingat, "Siapa yang bisa menerima kelemahannya, baru saja menambah 1 kelebihan pada dirinya..."



 
Top