KLIK DI SINI untuk mengetahui PANDUAN, BIMBINGAN GRATIS sehingga Anda bisa MENGHASILKAN MILIARAN RUPIAH melalui BISNIS ONLINE cukup dengan menggunakan fasilitas GRATIS di internet KLIK DI SINI

Tanaman Trembesi Ternyata Sangat Berbahaya dan Merugikan jika Tidak dikelola Secara Baik

Semua tumbuhan yang memiliki daun yang lebar tentunya baik untuk penghijauan. Namun, tanaman trembesi ini dianggap salah satu tanaman asing dan sedikit merugikan atau bisa juga berbahaya. Berbahaya di sini adalah bukan berbahaya yang membuat hal-hal yang membuat manusia cedera, namun berbahaya bagi ekosistem di dekatnya (ekosistem lokal).

Tanaman trembesi atau Pohon Trembesi adalah jenis tanaman asing yang masih memerlukan riset untuk melihat potensi invasifnya. Perlu kehati-hatian saat menanam dalam jumlah banyak karena dapat mendesak tanaman dan merusak ekosistem lokal.

"Trembesi dari Amerika (selatan) tropik memang sudah beratus- ratus tahun ada di Indonesia. Sebagai ahli ekologi tumbuhan, saya tidak menolak program pemerintah, tetapi menyarankan perlu kehati-hatian ketika menanam trembesi dalam jumlah banyak," kata ahli ekologi tumbuhan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, Senin (15/2) di Bogor, Jawa Barat.

Pertengahan Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan memberikan satu juta bibit trembesi atau ki hujan untuk setiap provinsi dalam acara pembekalan budidaya trembesi di Istana Negara dalam rangka program penanaman satu miliar pohon.

Yudhoyono meminta, bibit trembesi didistribusikan sampai pelosok-pelosok untuk menunjang komitmen pemerintah mereduksi 26 persen emisi karbon.

Mustaid mengingatkan, tanaman asing yang berhasil didomestifikasi di Tanah Air cenderung dominan dan berpotensi invasif, atau mampu mendesak tanaman dan ekosistem lokal. Keberadaannya memunculkan ancaman pada ekosistem bawah tanah pada mikroorganisme tanah, tanaman strata rendah, dan fauna di sekitarnya.

Trembesi dilirik Yudhoyono setelah dikemukakan data bahwa kemampuan penyerapan karbon per pohon trembesi tergolong paling besar, yaitu 28.488 kilogram karbon dioksida per tahun. Pohon trembesi, yang bisa mencapai usia 600 tahun itu, berkanopi luas, bisa mencapai diameter 8 meter dengan ketinggian pohon berkisar 40 meter.

Pohon lokal

Mustaid menuturkan, sebetulnya pohon lokal beringin atau Ficus benyamina patut dilirik untuk menunjang program penanaman satu miliar pohon. Tak ubahnya trembesi, beringin juga tergolong pohon raksasa yang mampu menyerap emisi karbon tinggi. "Beringin sebagai tanaman lokal ini terdapat di sejumlah daerah di Indonesia, tetapi belum ada riset pengukuran daya serap emisi karbonnya," kata Mustaid.

Beringin termasuk spesies kunci, yaitu jenis pohon yang menopang kehidupan flora dan fauna lainnya. Sistem perakarannya kuat sehingga memperbanyak cadangan air tanah.

Potensi kelestarian beringin tergolong paling tinggi karena kayunya tidak dapat dimanfaatkan. Pohon ini tersebar di dataran rendah hingga dataran tinggi.

Mustaid mengatakan, pola penanaman pohon disarankan juga tidak serempak sama jenisnya dalam satu kawasan. Keanekaragaman hayati harus dijaga dengan tetap mempertahankan jenis pohon lokal.

Pemilihan jenis tanaman dengan jangkauan tinggi pohon juga harus berjenjang. Dengan tajuk tanaman bertingkat, tujuannya untuk mempertahankan air hujan selama mungkin guna mengurangi laju limpasan air hujan yang bisa mendatangkan banjir.

Periset Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Wiriadina, mengungkapkan, trembesi sebagai tanaman asing baik digunakan sebagai peneduh di perkotaan. Namun, sistem perakarannya yang kuat serta menyebar agak horizontal harus diantisipasi agar tidak merusak infrastruktur bangunan.

Area teduhan akibat tajuk trembesi juga dikenal kurang baik bagi jenis tanaman lainnya. Ini potensi invasif trembesi yang membutuhkan riset mendalam.

Diketahui, jenis flora dan fauna asing yang invasif atau mematikan jenis tanaman lokal saat ini, antara lain, adalah jenis akasia (Acacia noctiluca) yang ditanam di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Tanaman ini telah meluas dan mengganggu pertumbuhan rumput sebagai makanan utama banteng endemik di sana.

Jenis aster (Eupatorium sordidum) dari Meksiko meluas di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Jenis tanaman ini mendesak lantai hutan tempat tumbuhnya tanaman obat. Juga dikenal tanaman asing invasif lainnya, seperti eceng gondok. (NAW)

Sumber : JAKARTA, KOMPAS
 
Top