Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Tulisan Mas Jaya Setiabudi ini keren banget tentang Personal Branding dari Dewa Eka Prayoga



Sambil resapi, Baca deh!

***

PERSONAL BRANDING

“Mas J, berapa fee yang harus saya bayar kalau mau minta endorse via akun Mas J?”, itu salah satu pertanyaan seorang author yang filmnya sedang diputar di layar lebar beberapa tahun lalu.

Saya jawab, “Saya gak mau dibayar untuk endorse dan saya gak mau endorse jika saya gak suka atau gak cocok dengan produknya.”

Sombong amat yah..! Yaa, begitulah..

Mau tahu alasannya? Yuk simak.

Pernahkah Anda melihat seseorang yang Anda kenal, jualannya gonta-ganti. Hari ini promo sabun, besok jual sepatu, minggu depannya dagang brownies. Kira-kira, Anda sebagai kawannya akan menyebut dia sebagai apa? Si Anu Doraemon?

“Anu siapa sih yang kau maksud? Anu sabun, Anu sepatu, Anu brownies atau Anu ban bekas?!”. Nah loh, bingung kan?

Contoh lainnya..

Anda mengenal saya sebagai founder Yukbisnis atau berlabel ‘juragan’. Hampir setiap acara, saya konsisten menggunakan kaos Yukbisnis saya, mengedukasi UKM untuk melek online. Tiba-tiba, dalam 1 minggu, dikarenakan bayaran/komisi yang gede, saya mempromosikan salah satu produk yang tak ada hubungannya dengan yukbisnis. Kalo istilah saya, ‘melacurkan’ akun saya demi uang, tanpa melihat keselarasan value si produk. Mungkin saat itu produknya laku, tapi apa yang terjadi dengan kepercayaan ‘loyalis’ terhadap saya?

“Bagaimana jika profesinya sebagai endorser, kan dia dibayar untuk mempromosikan?”. Nah, dalam ilmu komunikasi dan pemasaran juga dipelajari, bahwa masing-masing ‘bintang’ punya ciri khas karakter. Misalnya: ibu muda, dinamis, kritis, pecinta lingkungan, kelas A-B. Kira-kira cocok kah profil seperti itu mempromosikan produk salep panu? Lihat kelas yang diwakilinya saja jelas gak cocok. Jika dipaksakan, maka personal brand dirinya akan turun.

DENGAN HATI

Orang mengenal saya berkarakter ceplas-ceplos (agak sadis), non formal (suka pakai kaos), juragan, kebebasan, penggemar makanan nusantara (gak suka keju, susu), apalagi? Itulah personal brand saya. Tiba-tiba, saya mempromosikan pie keju-susu, apa Anda percaya? Atau saya membuat seminar: “Tips betah kerja sampai kiamat”. Mau nonton?

Saya banyak belajar ‘orisinalitas’ dari Om Bob Sadino; sosok yang tulus saat berbicara, meski tak mengenakkan bagi sebagian orang (yang tak rendah hati). 1 Desember 2009, saat saya ‘manggung’ bersama dengan Om Bob di depan kepala SMK negeri se-Indonesia, ada seorang Ibu kepsek bertanya kepada Om Bob. Setelah diberikan penjelasan oleh Om Bob, ehh malah ngeyel abis, banyak ‘tapi’. Spontan Om Bob berkata, “Kalo Anda laki-laki, sudah saya gampar muka Anda”, he he he..

Bagi orang yang tak mengenal dekat sosok Om Bob pastilah meradang dan men-judge Om Bob, kasar, tak tahu etika, atau apalah namanya. Tapi bagi saya, hal itu adalah langkah yang tepat dilakukan kepada seorang pendidik. Bagaimana dia akan menjadi pendidik yang baik, jika dia tak rendah hati saat ‘ngaji’ kepada seorang guru?!

Tentu saya tak ‘seberani’ Om Bob, tapi banyak kemiripan karakter. Sama-sama ‘njeplak’, hanya beda kadarnya saja. Buat saya, Om Bob adalah contoh Personal Brand yang kuat.

Jika Anda adalah suatu ‘produk’, kira-kira ‘kesan khas’ apa yang ingin Anda tanamkan di benak konsumen setelah ‘menyicipi’ diri Anda? Apakah kesan itu sudah terwakili secara konsisten pada diri Anda?

Seberapa tinggi kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap perkataan Anda?
Apakah saat Anda mereferensikan sesuatu, mereka percaya kepada Anda?
Akankah mereka puas dengan referensi Anda?
Akankah referensi Anda menguatkan atau melemahkan personal brand Anda?

MAHAL

Brand adalah aset tak kasat mata yang berharga. Bisa jadi (dan sering) lebih berharga dari aset fisik. Hanya saja, brand dibangun dengan waktu dan konsistensi. Lama nanamnya, tapi lama juga masa panennya. ‘Melacurkan’ brand Anda dapat menghasilkan tunai dengan cepat, namun menggerus loyalitas pelanggan kemudian.

"Saat Anda ingin menyenangkan semua orang, saat itulah Anda akan mengecewakan semuanya."

***

Share ya
 
Top