Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Aktivitas Mas Ippho Santosa sebelum Mengisi Seminar 24 Desember 2017 di Madiun 




Seminggu ini saya diundang oleh Zoya, Mane Indonesia, dan BPD Jogja. Semacam in-house. Besok pagi (Ahad pagi) insya Allah saya seminar publik di Madiun. Mohon doa dari teman-teman ya. Semoga lancar dan berkah.

Tepat Desember tahun ini, saya berusia 40 tahun. Dan seumur hidup, saya tidak terlalu suka dengan yang namanya unjuk rasa. Bagi saya, kata 'unjuk rasa' memiliki konotasi yang negatif. Namun 17 Desember yang lalu adalah sebuah pengecualian.

Massa, yang dipimpin oleh MUI, berunjuk rasa menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ingat, Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Boleh dibilang, kita berutang budi pada Palestina.

Namun muncul beberapa kendala teknis. Pertama, di hari yang sama anak saya ingin saya hadir di sekolahnya, ada event khusus yang melibatkan anak dan orangtuanya. Kedua, di hari yang sama, saya ada seminar di Semarang dan ratusan peserta telah menanti.



Lantas, apa pilihan saya? Bagi saya, semuanya adalah penting. Maka dari itu, pada akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri ketiga-tiganya. Ya, ketiga-tiganya. Lha, gimana cara bagi-bagi waktunya?

Saya subuhan di Monas, tepatnya jam 3.30 pagi (sekitar 45 menit dari rumah saya). Lalu jam 7-an saya bergegas ke sekolah anak. Perjalanan dari Monas ke sekolah anak memerlukan waktu sekitar 1 jam. Ya, saya berusaha memenuhi harapan anak saya. Dan di sekolahnya, saya sempat main 3 game bersama dia, dari total 5 game.

Terus jam 10 saya pamit sama dia. Cuuus ke bandara. Sekitar 1 jam dari sekolah itu. Ya, saya bergegas menuju Semarang. Bukan apa-apa. Ratusan peserta telah membeli tiket seminar saya dan tidak boleh saya kecewakan begitu saja. Btw, mohon doa dari teman-teman ya. Semoga niat saya tetap terjaga.

Sekarang, apa yang terjadi?

Segala puji hanya untuk Allah. Sebanyak 128 negara di PBB akhirnya menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hanya 9 negara yang setuju dengan klaim sepihak dan tidak adil itu. Ini terjadi kemarin.

Ternyata doa kita dijawab dan unjuk rasa kita didengar. Berpengaruh. Nggak main-main. Setidaknya, mereka kuatir kalau muslim-muslim sedunia memboikot produk-produk mereka. Bagi mereka, keuntungan ekonomi adalah segala-galanya.

Begini. Keberpihakan kita kepada Palestina bukan semata-mata karena alasan agama, melainkan juga karena alasan kemanusiaan dan keadilan. UUD 45 yang mengamanahkan itu. Saya yakin insya Allah Palestina akan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Aamiin. Doakan ya.

Gegara saya ikut unjuk rasa, bisa jadi sebagian follower tidak lagi menyukai saya. Bukan mustahil saya dicap radikal atau apalah. Satu lagi. Bisa jadi Amerika tidak mengizinkan saya masuk ke sana dalam waktu dekat. Maafkan saya. Bagi saya, itu risiko yang harus saya ambil.

Bayangkan, tanah milik ibumu diserobot orang. Karena penyerobotan itu akhirnya ibumu hidup susah dan teraniaya. Akankah engkau berkata, "Bu, aku netral." Tentu tidak. Pastinya engkau akan bersuara dan bergerak, sebisanya! Saya harap Anda setuju dengan saya!

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

(Note: Anda tidak perlu meminta izin kepada saya sekiranya ingin menyebarkan tulisan ini)

Kadang, kita perlu bersikap untuk hal-hal yang bersifat prinsip. Saran saya, jangan pasif. Sebaik-baiknya, proaktif.

Apa pendapat teman-teman soal Palestina? Saya mau dengar pendapatnya. Silakan disampaikan ya di Instagram saya >> https://www.instagram.com/p/BcyOL4WBOzU/
 
Top