Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Ada yang nanya, mau umrah nggak? Jawabnya, "Buat makan aja susah!" Aneh nih orang. Ditanya apa, jawabnya apa. Nggak ngerti Bahasa Indonesia kali ya, hehehe. Berpikirlah positif. Bukankah Tuhanmu maha kaya dan maha besar, tak sekecil pikiranmu? Berapapun saldo kita masing-masing, saya harap kita semua setuju.

Seorang muslim, kalau ditanya soal umrah, yah jawab saja, "Insya Allah mau. Insya Allah berangkat." Nggak susah tho? Ini soal pola pikir saja. Lha, kalau kita ngomong, "Buat makan aja susah," walhasil makannya makin susah dan umrahnya makin susah! Bertambah-tambah! Kata-kata itu kan doa. Apalagi kalau sampai terekam oleh otak bawah sadar.

Begini. Umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Yang beginian, saya yakin Anda sudah tahu. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan. Sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya.

Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah. Mohon maaf, ini omong kosong namanya! Sekali lagi, omong kosong! Apa perlu saya ulang untuk ketiga kalinya?

Jadi, baiknya gimana? Lha, masih nanya! Yah pantaskan diri. Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri. Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.

Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin?

Anda pernah mengalami rasa takut? Tentu saja pernah, terutama untuk mencoba hal-hal baru. Betul apa betul?

Ketika memulai, kadang muncul #RasaTakut. Nyali sampai menciut. Kening sampai berkerut. Tapi, tetaplah melangkah, jangan pernah surut. Selagi legal dan halal, tak perlu takut.

Hei, ingat! Rasa takut harus ditaklukkan dengan sadar dan sengaja. Bukan untuk dimanja-manja. Sering kali apa-apa yang kita takutkan itu tak pernah terjadi. Right?

Dan sebenarnya, keberanian itu menular. Benar-benar menular. Maka, ada baiknya kita bergaul dengan orang-orang yang berani.  Sedikit-banyak kita akan terpengaruh. Hm, apa penjelasannya?

Begini. #Manusia itu semacam transmitter, semacam pemancar. Orang-orang hebat akan memancarkan energi dan gelombang yang hebat. Hendaknya kita bertemu dan belajar sama mereka. Bukan saja karena ilmunya. Tapi juga karena energinya.

Demikian pula kalau kita bertemu dengan orang-orang yang berani. Ya, keberanian itu akan memancar dan menular. Sedikit-banyak kita akan merasakannya dan terpengaruh. Ini logis sekali.

Bagaimana dengan doa? Sama, ini juga energi dan gelombang. Akan memancar. Berdoa, minta doa, dan saling mendoakan, ini adalah kebiasaan yang sangat baik. Masya Allah, akan nikmat dan dahsyat rasanya kalau ini terus-menerus dibiasakan.

Saya pribadi berterima kasih banyak kepada Eyang Habibie (Presiden ke-3), Pak Zul (Ketua MPR), Pak Tung, Ustadz Amir, dan Ustadz Yusuf yang telah mendoakan saya berbagai kebaikan pada milad saya, 30 Desember yang lalu. Doa yang sama untuk beliau-beliau sekeluarga, insya Allah. Semoga Allah ijabah, aamiin.

Sampai di sini, ada dua poin. Apa itu? Pertama, bertemu dengan orang-orang hebat. Kedua, saling mendoakan. Terus, poin yang ketiga? Niat yang lurus. Percayalah, ketiga hal ini akan menjadi 'suatu penguat' dan akan memancar dengan sendirinya.

Kalau kita perhatikan baik-baik, ketiga poin tadi tidaklah sulit. Yang penting, kita mau dan sungguh-sungguh mencobanya. Gimana dengan Anda? Siap mencoba? Saya harap begitu. Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah.

Energi itu memancar. Ini logis

Setiap energi menyimpan vibrasi tersendiri

Bergaullah dengan orang-orang hebat. Energi itu memancar

Manusia itu semacam transmitter, semacam pemancar.
 
Top