Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)


SOLUSI JIKA MERASA MENTOK? SILAKAN BACA INI SAMPAI SELESAI DARI Billy Syahrul Maulana



Kalo boleh, saya minta waktu anda 5-10 menit untuk membaca tulisan ini. Fokus ya, karena ini cukup panjang. Insya allah bermanfaat

Pengepungaan telah berlalu lebih dari 40 hari, banyak nyawa melayang, medan pertempuran menjadi lautan darah dan bangkai manusia, tetapi benteng setebal tiga lapis itu belum juga tertembus.

Banyak tentara akhirnya harus gugur sebagai syuhada jika ingin melewatinya, parit yang ada di sekitarnya pun juga turut memperkuat benteng itu. Bahkan lontaran peluru meriam terbesar yang sebelumnya belum pernah dibuat tidak mampu meluluhlantahkan benteng kota.

Ya. Benteng tersebut adalah Benteng Theodosius. Dari riwayat yang ada, belum pernah ada dari pasukan manapun bisa berhasil menaklukan kota Konstantinopel dengan sistem pertahanan tercanggihnya yang dibuat oleh para Kaisar Byzantium terdahulu.

Sang Sultan pun frustasi atas apa yang terjadi pada tentaranya, beliau tidak mau keluar tendanya, dan tidak mau berbicara dengan siapapun. Dengan keadaan demikian beliau berdoa dan menangis atas kenyataan yang ada.

Hal ini membuat para pasukan Turki Utsmani goyah, moralnya anjlok, dan kehilangan kepercayaan diri. Tapi, apakah Sultan gagal dalam kampanye pengepungan Konstantinopel? Sayangnya, kenyataan berkata lain.

Suatu waktu, Allah memberikan petunjuk kepada Sultan melalui gurunya yang datang menemuinya, yaitu Syekh Samsuddin. Sang Guru berbicara kepada Sultan dan meyakinkannya bahwa dialah seseorang yang dinubuatkan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya. Kemudian Syekh Samsuddin mengajaknya menziarahi makam sahabat Nabi yang berada di dekat benteng, yaitu sahabat Abu Ayyub Al–Anshari. Beliau menceritakan perjuangan sahabat Abu Ayyub dalam berperang menaklukkan kota Konstantinopel.

Setelah bertemu dengan gurunya, Sultan memutuskan untuk menyerang kembali melalui sisi utara benteng, tetapi sulit rasanya supaya dapat mengarahkan pasukan menuju sisi utara benteng, karena untuk mencapainya, armada kapal Sultan harus melewati teluk Golden Horn yang dilindungi dengan rantai raksasa yang membentang diatas selat tersebut sehingga mustahil untuk melewatinya.

Akhirnya Sultan melakukan ide yang kedengarannya mustahil untuk dijalankan. Dan Sultan pun bersikeras agar tetap menjalankan ide gila tersebut walaupun para menterinya tidak yakin akan hal tersebut.

Pada malam harinya, Sultan bersama para menteri mengumpulkan bala tentaranya. Para tentara diperintahkan untuk memindahkan kapal perang lebih dari 70 buah dengan cara diletakkan diatas gelonggongan kayu yang dilumasi dan ditarik melalui bukit Galata, dikarenakan tidak mungkin lagi jika harus melalui teluk Golden Horn yang dilengkapi dengan rantai raksasanya.

Pemandangan menakjubkan pun terjadi pada malam itu, puluhan kapal perang berlayar melewati bukit. Ya. Dialah Sultan Mehmed bin Murad atau Sultan Mehmed II. Dialah yang kerap dikenal dengan sebutan “Orang Yang Mengubah Daratan Menjadi Lautan” , para penduduk Konstantinopel merasa keheranan akan semua itu, apakah yang mereka lihat sebuah kenyataan atau hanya fatamorgana belaka, mereka ketakutan dan merasa bahwa kehancuran Konstantinopel sudah didepan mata.

Setelah berusaha keras memobilisasi puluhan kapal perangnya, Sultan mulai menyerang sisi utara benteng, karena di titik itulah kelemahan benteng tersebut. Dengan semangat tentaranya yang kembali membara, atas izin Allah SWT akhirnya Sultan Mehmed dapat merobohkan keangkuhan benteng Theodosius selama berabad–abad.

Hadits yang telah dinubuatkan oleh Nabi SAW terbukti benar adanya, bahwa Pemimpin yang dapat menaklukkan kota Konstantinopel adalah sebaik–baik pemimpin serta pasukannya adalah sebaik–baik pasukan. Dialah Sultan Mehmed bin Murad. Sultan ke-7 dari Kesultanan Turki Utsmani. Yang orang–orang menjulukinya dengan gelar Al–Fatih atau Sang Pembuka.

Dari kisah tersebut dapat kita petik sebuah pelajaran bahwasannya Allah mengabulkan doa seorang hamba saat hambanya mulai menyerah bukan karena Allah tidak menyayangi hambanya, tapi karena semata–mata Allah ingin melihat sejauh mana kita bersabar dan tetap akan keyakinannya kepada pertolongan Allah.

Demikianlah kisah tentang kesabaran ketika mentok dengan sesuatu hal yang kita lakukan

Jika konteks cerita diatas adalah perang dalam artian yang sebenarnya. Namun lain dengan konteks yang berlaku masa kini

Sekarang kita bukan lagi perang seperti halnya Sultan Mehmed menaklukkan Konstantinopel. Jaman sudah berganti, tahun demi tahun pun terlewati. Dunia telah memasuki era baru, peradaban pun semakin maju

Selain perang melawan neo kolonalisme dan imperialisme kapitalis, yang harus kita hadapi adalah perang melawan gurita RIBA

RIBA sangat marak menjalar seolah-olah seperti gelombang samudera. Tiada hentinya

Memang, ketika terjerat RIBA kita akan merasa mentok, tidak ada lagi jalan keluar

Padahal bila melihat kisah perjuangan Sultan Mehmed, selalu ada saja jalannya. Solusinya pun bukanlah hal teknis yang rumit

Kita tinggal bersimpuh, bersujud dan berdoa untuk meminta pertolongan kepada Allah.

Ihdina Shirotol Mustaqim. Tunjukanlah kami jalan yang lurus

Minimal 17 kali sehari kita selalu menyebutkan kalimat diatas. Tapi kenapa pertolongan sang Maha Pemberi Pertolongan belum kunjung tiba?

Jika kita melihat apa yang dilakukan Sultan, beliau hanya berserah diri dan intropeksi diri. Masa seseorang yang sudah tua saja semangat merebut Konstantinopel, bahkan minta dimakamkan disamping benteng. Sedangkan beliau yang masih muda tidak meniru semangatnya. Pikir Sultan

Lalu apakah kita sudah melakukan itu? Yakni berserah diri dan intropeksi. Taubat dan menyadari kesalahan yang telah dilakukan

Barangkali bila temen-temen membaca bit.ly/bjaditaubaters akan mendapatkan bahan intropeksi diri dan dorongan spiritual dari kisah para pejuang ANTI RIBA

Sekian. Silakan dishare kecuali ini tidak bermanfaat 🤗
 
Top