Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

OBAT ANTI NYINYIR DARI Dewa Eka Prayoga‎ ke  JAGO JUALAN

Hidup di era media sosial memang banyak dramanya. Bayangin aja, apapun yang dilakuin dan diposting sama kita, bakal dikomentarin sama orang. Bener, kan?

Ya wajar, namanya juga media sosial.

Kalau gak mau dikomentarin, ya gak usah posting apa-apa. Silent reader aja. Simpel. Gitu doang.

Sayangnya, kita sudah terlanjur "nyebur" di media sosial. Buktinya, Anda tercyduk sedang membaca status ini, dan nanti bakal komen, juga share. Hehe

Nah, atas dasar itulah, kali ini Saya pengen sharing tentang fenomena nyinyir. What is the meaning of "nyinyir"?

Kalau Anda cek di mbah Google, nyinyir beda jauh artinya dengan nyindir. Namun, kebanyakan orang yang hidup di jaman now menganggap artinya sama. Yowis, kita samain aja, supaya satu frekwensi.

Misal nih, pas kita buat status gini:

"Alhamdulillah, orderan hari ini laris manis. Gak nyangka bisa sebanyak ini..."

(Sambil ngepost gambar tumpukkan paket pengiriman)

Eeeeeeh tiba-tiba ada orang yang nyeletuk di komen:

"Halah, paling itu stok gudang yang belum kejual. Belum laku mba?"

atau mungkin gini:

"Ini paling covert selling. Siap-siap nih kita bakal dijualin. Dompet siap robek. Rekening siap kering!"

...dan sejenisnya.

Gubrak! #garuk2tembok

Pernah ngalamin kaya gitu? Atau bahkan lebih parah daripada itu?

Misal nih:

Pas posting foto-foto di luar negeri, dicap pamer...

Pas posting screen shoot testimoni, dikira sombong...

Pas posting gambar-gambar jualan, dianggap spam...

Pernah ngalamin?
Hadeeeuh... Salah terus ya!

By the way, Saya pun pernah mengalaminya, bahkan sering. Banget. Uh! Makanan sehari-hari.

- Bagi-bagi Ebook GRATIS, dikatain modus..
- Jualan buku MAHAL, dibilang tega..
- Jadwalin webinar GRATIS, dicurigain..
- Buat webinar PREMIUM, dinyinyirin..
- Ngadain seminar GRATIS, gak pada datang..
- Ngehelat workshop BERBAYAR, apalagi...

Wadawww!!!

Salah wae aing mah... Nasib rengginang di kaleng Khong Guan yeuh!🙈

Untungnya, Saya gak baperan.

Meminjam pepatah jadul, "Biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu". Sakarepmu wis... wkwkwk

Bicara soal nyinyirun (si tukang nyinyir), sebenarnya mereka itu gak jahat, cuma memang dia itu EKSIS lewat omongannya. Hehe 🤣

Makanya, bagi dia, sing penting bisa ngomong dan mengemukakan isi pikiran, embuh bener opo salah. Hal-hal yang gak penting, bisa jadi penting baginya. Pokoknya, dia kelebihan waktu untuk ngomentarin hidup orang. Salut lah pokoknya! 👍🏻

Lantas, bagaimana sikap kita merespon cibiran dan nyinyiran tersebut?

Pertama, ABAIKAN.

Ya, abaikan. Cuekin aja!

Bayangin.

Pas kita bermimpi, mereka meragukan.

Pas kita berhasil, mereka bilang kita beruntung.

Pas kita gagal, mereka gak mau bantu.

Serba salah! Jadi, cuekin aja.

Rada susah emang mengontrol respon mereka. Bukan rada lagi, tapi emang susah, uncontrol, bukan dalam kuasa kita.

Hak mereka kalau memang mau nyinyir, asalkan kita gak tersindir & gak baperan.

Kedua, MAAFKAN.

Ya, maafkan. Saya yakin, ada diantara cibiran dan nyinyiran mereka yang nyakitin hati kita. Kalau itu benar-benar terjadi, akibat dari kita yang baperan itu, maka maafkan saja kelakuan mereka.

Maafkan saja...
Gak ada ruginya memaafkan orang.

"Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A'raf : 199)

Bahkan, jika kita terbiasa memaafkan perbuatan dan kesalahan orang, itu lebih utama daripada sedekah yang diiringi perkataan yang menyakitkan. Seperti dalam firman-Nya:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263)

Jadi, maafin aja. Udah, jangan diambil ati.

Ketiga, DOAKAN.

Ya, doakan. Mari kita doakan semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka (juga kita).

"Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Q.S. Al-Mu’minun: 96).

Kita mesti malu dan mencontoh Rasulullah.

Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah SWT untuk menyucikan jiwa-jiwa kotor, hati kusam, dan mengajarkan akhlakul karimah, bukannya disambut dengan baik oleh orang-orang Quraish saat itu, tapi malah dicibir, dinyinyir, dicemooh, dihina, difitnah, dan dihujat. Tidak jarang, bahkan beliau dilempari tulang belulang, kotoran unta, dan diludahi ketika beribadah di Ka’bah. Namun, apakah beliau membalas semua tindakan keji itu dengan tindakan yang sama? Ternyata tidak!

Gak cuma itu...

Dalam peristiwa Thaif, ketika Rasulullah SAW datang bersama para sahabat mencari perlindungan, beliau malah dilempari batu hingga berdarah. Dalam kondisi yang demikian, ternyata bukan kemarahan dan dendam yang ditunjukkan Rasulullah. Beliau malah MENDOAKAN orang-orang yang melemparinya agar segera mendapat hidayah dari Allah SWT. Padahal, para malaikat yang diutus oleh Allah SWT telah menawarkan kepada beliau untuk menghukum mereka. Ibarat kata nih, kalau Rasulullah bilang “iya” saja kepada malaikat, maka itu orang-orang yang berbuat jahat kepada Rasulullah akan langsung dijadiin tempe mendoan semua, alias benyek.

Tapi Rasulullah SAW menolak tawaran tersebut, malah beliau berbuat kebaikan kepada orang-orang yg menzalimi tersebut dengan mendoakan mereka agar mendapat hidayah. Terbukti, sebagian besar dari mereka memeluk agama Islam dan menjadi pembela Rasulullah paling depan di medan-medan perang.

Begitulah Rasulullah...

Lha kita?

Baru dicibir dan dinyinyir aja udah baper plus pengen bales dengan perbuatan lebih kejem. Ampun dah!

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Nah...

Sembari Anda melakukan hal-hal di atas, barulah Anda "membungkam" semua cibiran dan nyinyiran mereka dengan karya dan prestasi nyata. Percaya deh sama Saya, kalau Anda udah sukses, mereka yang awalnya membenci Anda, lama kelamaan kagum juga.

Seperti kata Mas Ibrahimovic, "Berikan Saya haters yang baru, karena haters yang lama sudah jadi fans...". Beuh, gaya!

Dan pastinya, selain itu semua, kita pun mesti evaluasi diri, karena bisa jadi ada diantara omongan mereka yang bener. Responlah dengan kacamata positif, InsyaAllah mentramkan hati.

Ibarat pupuk. Pupuk itu kotor, jijik, geuleuh, nggilani, tapi kalau pohon udah dikasih pupuk, pasti tumbuh, pasti membesar, karena pupuk itu nutrisi.

Begitupun dengan cibiran dan nyinyiran, itu pupuk buat kita agar terus bertumbuh.

Makin dicibir, makin tumbuh...
Makin dinyinyir, makin besar kapasitas diri kita...

Jadi, santai aja. Karena cibiran dan nyinyiran itu pasti ada.

Tugas kita, jangan sampai mengizinkan hal-hal buruk merasuki pikiran dan perasaan kita.

Seperti pesan Mahatma Gandhi, "Nobody can hurt me without my permission".

Artinya: Tak ada seorang pun yang dapat menyakitiku tanpa seizinku. So, ojo baperan! Okey?

Ingat, Nyinyir tanda tak mampu.
Mau, tapi gak mampu.

Dengan kata lain...

Nyinyir bisa berarti dengki, karena tak senang melihat orang lain bahagia.

Nyinyir pun pertanda bahwa impian dan keyakinan mereka tak sebesar impian dan keyakinan kita pada-Nya.

Ingatlah lagu almarhum Chrisye...

"Akan tiba massa, tak ada suara, mulut dikunci, tapi jari-jari bersaksi, bahwa setiap hari ia telah mencaci, menyebarkan informasi berbalut benci..." 😞

Kebiasaan mencela, walaupun bercanda, bisa jadi budaya. Maka, jangan suka sibuk nyinyirin hidup orang. Termasuk, ketika kita dinyinyirin orang, ingatlah wejangan di atas.

Karena mau kita bener atau salah, orang nyinyir gak akan berhenti nyinyir. Cuekin aja!

Ingat...

Akan selalu ada orang yang gak suka sama kamu. Yang nyibirin kamu. Yang nyinyirin kamu. Yang ngeremehin kamu. Yang suudzon sama kamu. Padahal, kamu gak pernah jahatin mereka. Dan kamu gak pernah ngotak-ngatik hidup mereka. Udah, biarin aja. Kalemin aja. Wolesin aja. Abaikan. Maafkan. Doakan.

Karena hidup bukan untuk menyenangkan semua orang...

t.me/dewaekaprayoga
 
Top