Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)



JANGAN JADI ENTREPRENEUR KALAU CUMA BUAT GAYA-GAYAAN dari Lia Puji Lestari

Fenomena "Social Climber" sekarang makin marak. Apa itu? Social Climber adalah orang-orang yang rela melakukan segala cara - termasuk pencitraan palsu - demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya.

Contoh :

Ada orang yang sengaja di Instagram suka foto-foto pakai barang branded dan selalu berpose di lokasi fancy/mewah demi mendapat gelar selebriti Instagram dan follower terus naik.

Padahal dalam kesehariannya dia keuangan seret, gaji nggak cukup untuk membayar semua perjalanan mewahnya, cicilan kartu kredit nunggak, dan tagihan bulanan mencekik.

Di sosmed dan di jalan terlihat mapan dan mampu. Bawa tas branded ke mana-mana, make up harga jutaan, ke mana-mana naik mobil, dan makan selalu di tempat mewah.

Padahal kenyataannya dompet seret dan kepala pusing mikir tagihan dan utang.

Di luar makan pasta harga 100 ribu, di rumah masak Indomie goreng harga Rp 2,500.

Miris? Iya.

Tapi apakah fenomena ini hanya terjadi di kalangan sosmed-er atau sosialita saja? Enggak!

Di dunia bisnis juga banyak yang jadi "Social Climber."

Banyak banget anak muda yang latah membuka bisnis, demi bisa menaruh namanya di name card sebagai :

"CEO of ...."

Padahal, jualan produk saja masih bingung. Profit masih ngos-ngosan, boro-boro bikin sistem bisnis yang menguntungkan.

Tapi tetap saja nekad buka usaha.

Biar kalau ketemu teman ada yang menyanjung :

"Ih, keren ya sekarang punya perusahaan sendiri."
"Ih enak ya sekarang nggak perlu ngantor lagi."
"Ih enak ya sekarang bisa bebas jalan-jalan."
"Wah keren ya sekarang jadi direktur!"

Dan sederet "Ih enak ya" dan "Wah keren yah" lainnya.

Padahal, jadi entrepreneur itu nggak enak!

Ini loh harga yang harus kamu bayar ketika menerjunkan diri menjadi seorang entrepreneur :

1) Kalau bisnis baru buka harus kerja 2x lipat lebih lama ketimbang karyawan, supaya bisa memenuhi pesanan konsumen.

2) Di akhir bulan kepala pusing membetulkan pembukuan, biar profit nggak boncos saat bagi-bagi gaji dengan karyawan.

3) Pas orderan membludak, modal buat produksi kurang. Mau pinjam duit ke bank jangan harap dikasih pinjam. Wong jaminan saja belum punya.

4) Pegawai hari Sabtu Minggu liburan. Entrepreneur pemula hari Sabtu Minggu kerja! Nggak ada istilah libur kalau sistem belum jalan.

5) Pegawai bayar pajak gampang, tinggal laporan, pajak dibayar perusahaan langsung. Entrepreneur? Dikejar-kejar pajak sepanjang waktu. Hahahaha ... Baru ngerasain omset 100 juta per bulan, pegawai pajak udah nelpon2 nanyain aliran dana yang belum dilaporkan. Pusing ga tuh?

6) Giliran mau ekspansi, masih puyeng soal pegawai yang nggak pinter-pinter kerjanya. Bayangin, di saat yang bersamaan, entrepreneur harus mikirin omset kudu naik dibarengi dengan men-training karyawannya yang masih bau-bau anak kemarin sore. Puyeng kuadrat lah!

7) Belum lagi kalau ada hutang. Baru ngomset dikit sudah ada yang menagih, Wwkwkwkw... kapan bebasnya?

See? Jadi entrepreneur adalah sebuah proses yang panjang. Dibutuhkan ketekunan dan ketegaran hati untuk menjalaninya.

Ribut sama karyawan, ruwet sama konsumen yang komplain, terpaksa ngutang, dikejar-kejar pajak, jantung dad dig dug mikirin pembayaran jatuh tempo, adalah sederet makanan empat sehat lima sempurna yang harus dilahap seorang entrepreneur.

Dan masih banyak lagi asupan makanan lain yang harus dilahap. LOL.

Jadi, kalau tujuan kalian jadi entrepreneur itu buat gaya-gayaan atau jadi solusi untuk menjadi seorang "Social Climber", mending nggak usah! Capek. Rugi. Ga bakal dapat apa-apa.

Jadilah entrepreneur sejati yang memang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk bekerja membangun sebuah sistem bisnis yang menguntungkan dan jadi solusi buat banyak orang.

 
Top