Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

Penjajahan Oleh Bangsa Asing melalui Teknologi oleh Army Alghifari Jaya Setiabudi Agan Khalid Tan Kim Gwan

Saat ini penjajahan oleh bangsa asing kepada Indonesia tidak dilakukan dengan cara peperangan akan tetapi dengan memanfaatkan teknologi sehingga bisa merusak ekonomi bangsa Indonesia. Maka dari itu sangat perlu diperhatikan dalam memanfaatkam teknologi. Apalagi saat ini banyak platform gratis yang digunakan untuk mendapatkan perilaku data konsumen di Indonesia.

Indonesia Darurat Harga Diri

Baru kemarin saya ketemu dengan mas Jaya Setiabudi. Di rumahnya. Kita diskusi mengenai penjajahan marketplace.

Lebih dari 90% produk di marketplace isinya produk impor. Produk-produk ini sudah mengantarkan 2 anak bangsa kita menjadi konon katanya daftar orang terkaya di Indonesia.

Bahkan, ada sebuah marketplace yang 70% barangnya adalah brand dia sendiri yang copy paste dari MANTAN orang yang buka toko disana dan pergi karena ditusuk sendiri oleh mereka.

Sebentar. Ada yang aneh!!

Marketplace ini sekarang jadi ladang penindasan. Dulu ada tragedi tiananmen yang membantai rakyat Cina, dulu ada tragedi Holocaust yang menghapus ras Yahudi, SEKARANG ada gerakan marketplace yang menghancurkan harga-harga dan ekonomi Rakyat Indonesia.

Keberhasilan mereka bukan PROFIT transaksi. Ingat. Tapi akuisisi orang. Pertumbuhan yang batasnya adalah langit.

Aset mereka adalah data transaksi dan perilaku konsumen.

Contoh pemanfaatannya: Orang yang belum selesai beli jaket di toko A, tiba-tiba ditawari jaket yang lebih murah di toko B. Mana boleh seperti ini??

Produk yang laku dari produsen B adalah celana, maka marketplace bikin sendiri brand lain lalu menawari para pembeli produsen B. Ini kalo orang nyata di pasar, udah diarak telanjang!

Semua data transaksi kita, tidak bisa ditracking pola-polanya. Padahal kalau pakai Facebook ads saja, kita bisa tau mana customer yang lifetime value nya tinggi, mana yang nggak, tinggal dimana, beli pakai apa, jam berapa, pakai CC atau tidak, dsb. Lah ini di marketplace, dikunci rapat-rapat. Katanya nasionalis?

Saya merenung sepulang dari rumah mas Jay.

Dimana harga diri kita?

Selama beriklan di Facebook ads saya selalu bilang ke teman-teman, JANGAN PERNAH beriklan toko marketplace-mu lewat Facebook ads. Itu namanya jadi yayasannya marketplace! Jadi donaturnya marketplace! Goblok!

Maaf saya agak emosi.

Tegakkan tubuhmu! Bikin website! Gak bisa? Belajar! Miliki harga diri! Jangan mau terus-menerus mental dan tindakanmu ditindas rasa-rasa malas.

Belajarlah bisnis lebih dalam! Miliki brand! Bangun sendiri namamu! Keluar dari medan perang marketplace. Tidak bisa tidak.

Kalau TERPAKSA masih tetap harus pakai marketplace, didik konsumenmu untuk BELI LEWAT WEBSITE sendiri. Kasih diskon. Kasih bonus. Sampai tiba waktunya, lalu ucapkan selamat tinggal ke mereka. Harus cerdas.

Sampai marketplace Indonesia dan pemain besar marketplace mau memihak produk anak bangsa, baru kita bisa rencanakan gencatan senjata. 90% produk impor tidak bisa ditolerir.

Ya, dulu saya termasuk yang mengajarkan impor satuan. Tapi saya betul-betul nggak nyangka hari ini marketplace sudah 90% isinya benar-benar produk impor. Kualitasnya hancur pula.

Buat teman-teman yang impor, ayo kita mulai perjuangan baru. Kalau perlu kita jajah negara lain. Jangan cuma devisa Indonesia yang disedot negara lain. Kita tarik dollar ke Indonesia. Jangan cuma puluhan dollar, tapi PULUHAN, RATUSAN, JUTA DOLLAR.

Ini sudah masuk ranah perjuangan. Mau diapakan negara ini kalau ekonomi rakyatnya sudah dikuasai oleh bukan bangsa sendiri, tapi segelintir orang?
 
Top