Jasa pembuatan website dan toko online murah mulai Rp 150.000.- sampai 50 juta segera hubungi 082226009834 (WA Only)

THE POWER OF RATOH DUEK

Opening Asian Games kemarin menyisakan sensasi manis didalam hati anak bangsa. Pembukaan event diawali dengan tarian kolosal 1.600 siswa SMU yang terkonsolidasi dari 20 SMA yang ada. 6 bulan latihan. Sebuah persiapan panjang.

Tarian yang secara salah kaprah disebut dengan Tari Saman ternyata adalah tarian Ratoh Duek/Ratoh Rajoe. Ditarikan oleh penari wanita, berjumlah genap, dan dipimpin oleh seorang penyair yang duduk diluar formasi. Bertolak belakang dengan tari saman yang ditarikan pria, berjumlah ganjil dan dipimpin oleh pengangkat yang duduk ditengah formasi.

Tulisan kali ini tidak akan membahas tarian ini secara teknis, namun ada pembacaan makna yang berbeda setelah Saya menonton tarian opening ini... yang menduduki trending Youtube 3 besar dalam beberapa hari terakhir.

Berikut beberapa pemaknaan yang Saya dapatkan...

1. Penegasan bahwa Indonesia adalah negeri muslim.

Ini adalah event pembukaan Asian Games. 45 Negara sedang hadir dalam perhelatan besar. Artinya, ini adalah suguhan ke hampir setengah lebih penduduk dunia.

Salut Saya ke panitia, pembukaan ini langsung diawali dengan suguhan identitas mayoritas negeri sebagai negeri muslim.

"Assalamualaikum... kami ucapkan... pada undangan... yang baru datang..."

Terdengar jelas dan lantang. Sebuah simbol negeri muslim yang dinamis dan progresif. Terbuka dan penuh warna. Seakan menjadi sinyal kuat bahwa inilah identitas muslim Indonesia hari ini.

Memilih tarian yang berasal dari serambi Mekkah Aceh, untuk kemudian dihadirkan di perhelatan kelas dunia, adalah sebuah langkah berani dari panitia Asian Games. Ditengah isu "Islam" yang dekat dengan agama kekerasan, panitia Asian Games berani menyuguhkan Islam didepan acara.

2. Menunjukkan kekuatan kerjasama.

Tarian ini dihadirkan oleh 1.600 penari yang duduk rapi membangun ragam formasi. Pertunjukkan 5 menit di lapangan yang disulap seakan layar hidup menjadi sensasi tersendiri. Tepuk tangan bergemuruh setiap hadirnya formasi baru yang membuat penonton terkejut.

Saya pun akhirnya menonton hampir 10 kali, dan terus berfikir, bagaimana latihannya? Berapa lama? Siapa yang melatih, bagaimana mentranlasikan konsep sebegini hebat ke 1.600 anak. Ini bukan tugas mudah.

Pembukaan tarian dengan menghadirkan 1.600 putri bangsa adalah sebuah pertunjukkan kehebatan dalam kerjasama. Pendapat bahwa Bangsa Indonesia sulit bekerjasama dan bersinergi telah PATAH atas tarian Ratoh Duek ini. Adik-adik kita membuktikan bahwa kerjasama adalah DNA bangsa ini.

Tarian ini seakan menjelaskan tentang arti pengaturan ego. Kapan harus merunduk, kapan harus naik, kapan harus duduk, semua ada masanya, tidak bisa mengikuti maunya sendiri. 1600 siswi tunduk pada harmoni yang sudah disepakati.

Melihat tarian ini, Saya jadi tambah yakin... bahwa bangsa ini siap melakukan kerjasama dalam skala besar. Koperasi dengan 500rb anggota. Kerjasama pembangunan daerah lintas elemen. Semua bisa dilakukan. Tarian ini buktinya. Adik-adik ini membuktikan kekuatan kerjasama.

3. Hadir dengan inovasi diluar pakem.

Ada yang awalnya membuat Saya bingung, baju para penari ini berganti-ganti. Dan sangat banyak varian warnanya, mungkin sampai 4 warna. Saya pun memutar berkali-kali, kapan mereka ganti bajunya?

Ternyata ini adalah ide segar dari fashion designer. Ada lapisan yang tinggal dikelupas. Dan menampilkan warna berikutnya. Cerdas. Ini imajinasi tingkat dewa. Ini bukan masalah berapa uang yang kita punya. Uang pada akhirnya tidak bisa melahirkan kreatifitas. Tidak melulu begitu.

Perubahan warna baju yang mengejutkan ini membuat gemuruh tepuk tangan dari penonton. 45 negara di Asia mungkin juga berfikir keras tentang apa yang sedang mereka lihat.

Performa inovasi kreatif ini membuat Saya yakin, bahwa bangsa kita siap bertempur di dunia ekonomi kreatif. Jika setengah GBK itu bisa muat 40.000 kursi, jual tiket 10 jutaan juga jadi 400M. Bikin saja pertunjukan 10 sesi di kemudian hari, bisa 4T tuh... revenue ekonomi kreatif dari pementasan.

Sebagai seseorang yang hampir jadi talent Net TV, Saya juga salut deh sama Mas Tama. Wishnutama memang manusia langka yang perlu dilindungi. Hehehehe... gokil level 19....

4. Prestasi kolektif.

Selain kesemua itu, setelah Saya mencoba membaca semua link terkait dengan performa tarian tersebut, Saya menemukan berbagai postingan para penari Ratoh Jaroe, yang hampir semuanya berbangga menjadi 1 dari 1.600 penari yang ada.

Walau wajah mereka belum tentu kena kamera. Walau kita sebagai penonton juga gak tahu 1.600 nama yang ada. Tetapi mereka berbangga atas prestasi kolektif yang ada. Ini pelajaran besar.

Dari sikap adik-adik ini, kita belajar tentang ketulusan membangun bangsa. Membangun bangsa ini kerja kolektif. Terkadang gak perlu orang tahun nama kita, muka kita, selama itu baik untuk negeri, bagaimana pun ia adalah prestasi kolektif.

Tidak ada yang sedih karena mukanya tidak masuk TV. Tidak ada juga yang berontak merusak formasi. Semua taat dan mengikuti format tarian. Dari awal hingga akhir. Dan merasakan betul bahwa ini adalah pertunjukkan bersama, bukan pertunjukan figur masing-masing. Ini amal bersama, bukan amal individu. Itulah semangat tarian Ratoh Rajoe.

5. Vibrasi Bangsa Besar.

Saya senang pembukaan asian games tidak dimulai oleh single performer. Panitia cerdas. Ini adalah simbol bangsa besar : kami banyak, kami beragam, kami bukan negeri single figur.

Salut untuk pemilihan Tarian ini sebagai tarian pembuka. Tarian ini seakan memberikan sinyal kuat ke semesta, bahwa Indonesia siap menjadi bangsa yang besar.

Awalan tarian Ratoh Duek akhirnya diikuti oleh pementasan banyak pargelaran kolosal. Perpaduan tari, teknologi, seni panggung, musik, suara, gerak, hingga rasa... semua beresonansi sempurna. Terima Kasih panitia. Keren pisan.

*****

Itulah 5 poin yang Saya maknai dari tarian Ratoh Rajoe. Event Opening Asian Games kemarin seakan mengobati sepinya proses awareness yang dibangun menuju Asian Games Jakarta-Palembang. Melihat pementasan yang begitu kuat secara tampilan, negeri ini nampak lebih siap untuk menggelar event lebih besar.

Narator Bangsa,
Rendy Saputra

Silakan share dan copaste ke grup-grup WA, tak perlu ijin. Jika memang dirasa baik untuk negeri.
 
Top